29 Maret 2010

Realitas vs Iklan Pajak

Semalem liat iklan dari Direktorat Jenderal Pajak yang menyampaikan realitas bahwa pembayaran pajak juga digunakan untuk mengentaskan kemiskinan.Sebuah usaha yang bagus dari Depkeu untuk meningkatkan kesadaran membayar pajak. Tapi sayangnya, realitas yang disajikan dalam iklan berbenturan dengan realitas yang lebih kuat.

Aku tertarik mempelajari iklan setelah melihat iklan yang mencoba mengklaim kebenaran kebijakan bailout Bank Century. Apakah melalui iklan kita bisa melakukan klaim kebenaran? Setelah mempelajari lebih jauh, ternyata iklan tidak cuma bisa melakukan klaim, lebih jauh iklan menggerakkan publik.

Umumnya, iklan adalah gambaran tentang sebuah realitas artifisial dengan cara memuat realitas-realitas nyata yang justru memperkuat posisi realitas artifisial tersebut. Jadi kalo realitas rekaan harus berbenturan dengan realitas nyata yang lebih kuat, maka efektifitas iklan itu dipertanyakan.

Demikian pula dengan iklan pajak untuk rakyat miskin, iklan ini berbenturan dengan realitas pengadaan mobil mewah untuk pejabat, dan masih harus berbenturan lagi dengan kasus Gayus Tambunan. Jadilah iklan pajak ini sebagai pedang bermata dua, di satu sisi mencoba membuka kesadaran membayar pajak tapi di sisi lain terbentuk sinisme yang menunjukkan bahwa Dirjen Pajak buang-buang uang negara untuk iklan yang tidak efektif. 

Akan sangat berbeda jika iklan pajak di atas dikaitkan dengan program pengentasan kemiskinan yang sama sekali baru dari pemerintah, alias bukan program yang berlabel "Lanjutkan ...". Program yang benar-benar baru akan menjadi mata rantai pemutus antara realitas masa depan dengan realitas pengadaan mobil mewah. Iklan kayak gini akan membuat realitas pengadaan mobil mewah maupun kasus Gayus Tambunan sebagai realitas masa lalu yang tidak berkaitan dengan kesadaran  baru membayar pajak.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menyatakan bahwa iklan pajak versi pengentasan kemiskinan adalah iklan gagal, terlalu banyak faktor untuk menilai keberhasilan iklan ini.

Memang, mengubah, mengarahkan, melawan ataupun menghancurkan realitas sosial memang bukan perkara mudah tapi bukan berarti mustahil. Iklan dengan kemampuan repetisi dapat menyusupkan kesadaran baru kepada publik. Orang bilang, iklan adalah urusan seni. Tapi aku lebih suka menyatakan bahwa iklan adalah hasil studi interdisipliner dan non-linier yang disajian dalam karya seni ...

28 Maret 2010

Iklan Instan dalam Dunia Instant

Akhir-akhir ini aku sering liat iklan pameran "Demam Diskon" di jalan-jalan Jogja. Iklan itu diilustrasikan dengan seorang perempuan yang tengah menderita sakit demam dengan mulut mengulum thermometer. Kenapa dipilih ilustrasi yang "terpuruk" seperti ini? Entahlah. Lain halnya jika demam pada iklan di atas diasosiasikan dengan tubuh yang membara sambil buru-buru meraih keranjang belanja ...

Iklan ibarat serangkaian mantera yang dapat membuat kita tergerak untuk mengikuti iklan. Karena memang begitulah esensi iklan, mensubtitusi diri kita sendiri dengan materi yang tawarkan oleh iklan. Sehingga iklan yang baik tentulah iklan yang berhasil menggerakkan publik.

Ada dua contoh iklan yang menarik untuk disimak sebagai berikut:

Ada satu iklan di telivisi yang sangat jarang muncul, tentang obat kuat khusus pria dewasa. Iklan ini diilustrasikan dengan pengemudi ojek sepeda onta yang mendapat pelanggan wanita super gendut. Sang pengemudi ojek terengah-engah karenanya. Namun setelah minum obat kuat, pengemudi ojek sepeda bisa membuat sepedanya terbang. Pertanyaannya, kenapa digunakan wanita super gemuk? Bukanlah lebih banyak laki-laki yang mudah terangsang oleh wanita yang seksi?

Iklan kedua adalah iklan dari Durex. Dalam iklan ini tidak ditunjukkan gambar manusia. Namun posisi berhubungan yang digambarkan sangatlah menantang. Dalam waktu dan situasi yang tepat, gambar ini cukup bisa merangsang Anda untuk mengajah pasangan naik ke ranjang, bukan? Alias segera menggunakan produk yang ditawarkan.

25 Maret 2010

Iklan yang menarik tapi tak membuat kita membeli

Aku adalah perokok yang tidak terikat dengan satu merk tertentu dan juga yang suka dengan iklan Rokok Sejati, tapi  sampai detik ini aku belum pernah membeli rokok merk Sejati. Ada banyak iklan rokok yang aku senangi, tapi tak ada yang membuat aku pengen membeli. Hanya satu jenis iklan rokok yang berhasil membuatku tertarik untuk membeli, yaitu iklan Djarum 76, itupun iklan  Djarum 76 versi lama yang mengangkat tradisi lokal, bukan iklan tentang Djarum 76 versi jin dalam botol kendi.

Iklan adalah kekosongan yang diisi oleh kerangka kesan, ideologi atau apa saja, alias tidak memiliki muatan realitas. Iklan memuat berbagai realitas kemudian disusun ulang kedalam sebuah posisi atau citra  kepalsuan, sementara realitas yang masukkan mengkukuhkan posisi atau citra tersebut.

Pencitraan yang ditawarkan dalam sebuah iklan harus dapat dimasukkan ke dalam struktur kesadaran konsumen, sehingga konsumen akan merasa memiliki citra seperti yang diiklankan. Tak heran jika iklan berusaha tampil “eye catching”, memiliki jangkauan luas serta melakukan repetisis demi bisa merasuk ke dalam kesadaran publik. Setidaknya ada dua tujuan kesadaran publik yang menjadi sasaran iklan, yaitu mengubah/mendekonstruksi  kesadaran dan mempertahankan kesadaran.

Iklan mendekonstruksi kesadaran publik akan citra suatu produk. Iklan Djarum 76 versi lama berhasil mendekonstruksi kesadaran diriku untuk mengabaikan fungsi 'filter' dalam rokok modern. Rokok Djarum 76 adalah rokok kretek tanpa filter, padahal rokok modern identik dengan filter untuk mengurangi pengaruh zat-zat beracun. Tapi iklan Djarum 76 berhasil membuatku ingin menikmati kemantapan tempo doeloe. Kini setelah iklan itu berubah menjadi versi baru, aku pun kembali terdekonstruksi sehingga lupa dengan kenikmatan tempo doeloe. Jadi udah bertahun-tahun aku tidak lagi membeli Djarum 76.

Mungkin iklan Djarum 76 versi baru telah berhasil merangkul konsumen baru sehingga konsumen seperti aku udah engga perlu dipertahankan lagi. Okelah kalo begitu ...

Sedang iklan yang mempertahankan kesadaran publik dapat dilihat dilihat dengan mudah pada merk-merk yang sudah memiliki posisi. Contoh yang paling mudah adalah iklan Mercedez Benz dimana tidak perlu lagi menunjukkan bahwa Mercedez Benz identik dengan kelas atas. Dengan memunculkan simbolnya saja, publik sudah tahu bahwa iklan tersebut adalah sebuah kemewahan kelas atas. Oleh karena itu, iklan Mercedez Benz hampir tidak pernah mengangkat tema mengenai terobosan untuk melakukan dekonstruksi. Bahkan ketika Mercy meluncurkan produk New Eyes pun tidak menimbulkan dekonstruksi.

Iklan yang mendekonstruksi biasanya bertujuan untuk membangun segmen pasar baru atau merebut segmen yang sudah ada. Hal ini dilakukan dengan membuat iklan yang menawarkan pencitraan yang baru. Seperti iklan Djarum 76 yang berhasil mendekonstruksi citra rokok tersebut kepada diriku yang semula Djarum 76 sebagai rokok kelas bawah menjadi rokok uang menghargai warisan leluhur yang melekat pada produk rokoknya.

Sedangkan iklan rokok sejati mencitrakan rokok tersebut dengan sikap tulus dan sumber inspirasi. Namun citra ini tidak melekat pada produk rokoknya, jadi wajar jika kesukaanku pada iklan rokok Sejati kembali kepada kekosongan. Sehingga sampe detik ini aku belum pernah mencicipi rokok merk Sejati. Dan sepertinya, semua iklan rokok saat ini tidak ada yang membuatku pengen membeli ...

Mekanisme Refleks Ternyata udah Dipraktekkan Dokter-dokter Singapura

Jumat, 26/03/2010 08:58 WIB
Titiek Puspa Sembuhkan Kanker Rahim dengan Meditasi
Adhie Ichsan - detikhot

Jakarta Selama dua bulan, penyanyi senior Titiek Puspa menjalani pengobatan kanker rahim di Singapura. Titiek menggunakan metode meditasi untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

"Begitu saya meditasi, semua penyakit hilang," ujar Titiek ditemui dalam acara ultah ANTV 'Kilau 17' di arena JiExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (26/3/2010) dini hari.

Menjalani pengobatan adalah masa terberat bagi Titiek. Pelantun hits 'Bing' itu ditangani tiga dokter sekaligus untuk urusan kebidanan, radiologi dan kemoterapi.

Namun perjuangan itu membawa hasil positif bagi Titiek. Ia senang banyak orang yang mendoakan dan memberikan semangat

"Aku dibilang sembuh, aku menangis. Yang di Atas masih menghendaki kesembuhan saya," tutur Titiek.
...............................................................................

Dan seperti itulah mekanisme reflek manusia yang merupakan hasil evolusi spesies Homo Sapiens ...

Manusia adalah spesies yang telah mengalami evolusi paling maju, baik dalam evolusi secara fisik, mental, logika  dan SPIRITUAL.

Sayangnya, ada kalanya kita terlalu arogan dengan modernitas berbasis pada hasil evolusi kemampuan logika yang telah kita capai saat ini. Sehingga warisan evolusi spiritual dari leluhur dipandang sebelah mata.

23 Maret 2010

Studi Kasus Century: Rekomendasi Tandingan ....

"Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who read too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking."
- Albert Einstein


Penolakan Presiden SBY untuk menonaktivkan pejabat yang terkait dengan Kasus Century udah bisa diduga sejak jauh-jauh hari. Maka dari itu, aku engga pernah menulis tentang Pansus Century karena hasilnya bakal engga ada yang heboh ...

Mungkin banyak diantara kita yang kecewa dengan penolakan presiden, tapi itulah kenyataan yang harus diterima. Jujur saja, aku seneng jika pejabat-pejabat ekonomi kita tidak didominasi Mafia Brekele, tapi apa hendak dikata ...

Yang bisa kita lakukan ada dua hal. Pertama adalah menyuarakan perubahan ekonomi global sehingga bisa membuka mata para Mafia Brekele jika perubahan global ini meruntuhkan arus utama “agama ekonomi” yang selama ini dianut oleh kaum Mafia Brekele ...

Kedua, tetap menyuarakan nilai-nilai moral melalui berbagai ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Agar para Mafia Brekele bisa lebih arif, bijak dan cerdas. Sehingga pada akhirnya jika arus utama ekonomi runtuh maka negeri kita tidak terseret ke dalam keruntuhan tersebut.

Dominasi negara komunis terhadap kapitalisme dunia, Amerika tak kunjung bangkit, peningkatan konflik dan ketegangan dunia .... siapa yang menjamin bahwa arus utama ekonomi akan bertahan selamanya?

Iklan, Alam Bawah Sadar dan RPM Konten Multimedia

"Science is the century-old endeavour to bring together by means of systematic thought the perceptible phenomena of this world into as thorough-going an association as possible. To put it boldly, it is the attempt at a posterior reconstruction of existence by the process of conceptualisation. Science can only ascertain what is, but not what should be, and outside of its domain value judgements of all kinds remain necessary."
- Albert Einstein -

Membahas iklan engga ada habisnya karena pada dasarnya iklan adalah kekosongan yang diisi oleh kerangka kesan, ideologi atau apa saja, alias tidak memiliki muatan realitas. Iklan memuat berbagai realitas kemudian disusun ulang kedalam sebuah posisi kepalsuan, sementara realitas yang masukkan mengkukuhkan posisi tersebut. Jadi tak heran jika iklan akan sangat elastis dan adaptif.

Walau bagaimana pun, iklan adalah motor penggerak perekonomian liberalisme. Cuman, kita masih sering mendengar orang-orang yang mengeluh karena terganggu dengan iklan. Cepat atau lambat, orang-orang iklan akan berpikir bagaimana cara agar masyarakat tidak mencaci iklan-iklannya karena cacian terhadap iklan bisa menurunkan citra produk. Itulah elastisitas dan adaptifitas iklan.
Melihat iklan sepatu Timberland membuatku teringat akan kemungkinan perubahan struktur sosial yang diakibatkan oleh iklan. Dan ternyata emang iklan sepatu Timberland itu memberikan kesan di alam bawah sadar kita.


Perhatikan tulisan WE BUILD THING TO LAST. MAYBE WE SHOULD START A BANK. Tulisan merupakan mantera yang memberikan kesan bahwa sepatu Timberland adalah sepatu yang sangat berharga sehingga harus disimpan di bank. Dengan warna dasar putih dihiasi dengan bercak hitam memberikan kesan sebagai dinding bangunan tua yang sudah berdiri sejak lama. Namun bayangan sepatu yang memantul di lantai menunjukkan bahwa barang yang ditawarkan adalah barang baru. Jadi inilah barang baru yang akan bertahan lama dan sangat berharga.

Sebagian besar dari kita akan memandang iklan tersebut secara sekilas. Hampir tidak akan menangkap detail pesan seperti di ats. Namun sebagian besar dari kita akan memiliki kesan-kesan di atas ketika kita mengantar istri, pacar, anak, atau siapapun ke toko sepatu kemudian kita melihat produk sepatu Timberland.

Dan tali sepatu yang dalam keadaan terbuka seakan mengundang kita untuk memakainya. Ini mungkin bisa membuat kita menunduk dan mengamati sepatu yang sedang kita pakai kemudian mempertimbangkan untuk menggantinya dengan Timberland

Jika Anda sempat melihat iklan Pompa Bensin Shell di koran-koran, maka Anda akan melihat bahwa latar belakang pompa bensin itu adalah langit biru yang cerah berawan disertai hijaunya pepohonan. Padahal sangat kecil kemungkinan masih ada ruang untuk langit terbuka di Jakarta, pemandangan asli yang ada di pompa bensin ini tentulah gambar gedung-gedung. Tapi kenapa pembuat iklan Shell mengubahnya menjadi pemandangan langit biru? Itulah adaptifitas dan elastisitas iklan dalam membentuk realitas bagi publik.

Satu lagi mengenai iklan Shell di atas, kita bisa melihat seorang laki-laki yang tengah mengisi bensin untuk motornya di bagian latar belakang gambar utama. Biasanya pengendara motor akan memandang ke arah meteran sambil memegangi motornya. Tapi dalam iklan Shell ini pengendara motor berdiri agak jauh dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Seakan sangat enjoy dan nikmat berada di dalam SPBU Shell.

Sebenarnya aku udah download beberapa iklan bagus untuk dibahas panjang lebar. Lebih panjang dan lebar daripada pembahasan iklan Timberland di atas. Tapi kok malas yah ... bahas sedikit aja deh ...

Iklan iPhone ini sangat menarik. Bayangan jemari yang menyentuh layar iPhone memberikan kesan bahwa setiap sentuhan menjadi sangat berarti.


Fleksibilitas dan anti bocor menjadi tema utama iklan ini. Mengapa iklan kondom ini menggunakan dua warna yang berbeda? Sebab jika menggunakan warna yang sama maka akan dikira kondom untuk pasangan homo!
Iklan Bir merek Hank ini sangat sederhana, tapi sedikit diantara kita yang menyadari bahwa gambar mobil disitu terlihat seperti tergopoh-gopoh ...

Lalu bagaimana jika TITEN sendiri bikin iklan? Mungkin aku sendiri akan bikin seperti

hehehe... kayak iklan pilem ...

Ooops, hampir lupa, khan artikel ini udah ditulis judulnya ada RPM Konten Multimedia, jadi kita bahas dikit tentang RPM.

Sebenernya, apa sih maksud RPM konten ini? Apakah untuk mengatur tulisan artikel di blog? Kalo blog yang diatur, itu namanya keterlaluan. Justru iklan-iklan itu yang perlu di atur, sebab iklan-iklan itu hadir  tanpa kita ingikan dan otak kita dipaksan untuk mencernanya. Lain dengan kunjungan ke blog ini yang secara sadar telah Anda telah meng-klik menuju ke alamat blog ini ... Level kesadaran Anda melihat iklan dan membaca blog ini jauh berbeda bro ...

Kebodohan dan Iklan Rokok

"Problems cannot be solved at the same level of awareness that created them."
- Albert Eistein -
Ada banyak iklan anti rokok seperti iklan di atas yang bermunculan di media publik. Memberikan citra bahwa kebiasaan merokok identik dengan kebodohan takkan membuat perokok bergeming. Bahkan salah-salah pembuat iklan anti rokok kayak gini yang justru terlihat tidak cerdas.
Dalam waktu dekat ini, iklan anti rokok akan makin gencar mengingat adanya aliran dana dari Bloomberg untuk kampanye anti rokok. Tak heran jika gerakan anti rokok memasuki ranah religius dengan dikeluarkannya fatwa pengharaman rokok.

Mungkin karena poster kampanye anti rokok tidak dibikin oleh seorang perokok makanya jadi kurang efektif alias tidak mengenai sasarannya. Sebagai seorang perokok aktif, aku bisa mengatakan bahwa kampanye anti rokok itu engga bakal berhasil. Masih terlalu jauh dari struktur kebiasaan merokok orang Indonesia. Entah kalo dana dari Bloomberg berhasil menguraikan struktur kebiasaan merokok, bisa jadi penutupan ratusan pabrik rokok di Kudus Jawa Tengah akan menjalar ke tempat lain.

Memang, produsen rokok saat ini seperti tokoh sinetron yang dianiaya, dimana serial sinetronnya engga pernah selesai seperti sinetron Tersanjung 1 yang berlanjut ke Tersanjung 2, 3, 4 dan seterusnya.

Tapi produsen rokok mungkin engga terlalu kuatir. Kampanye anti rokok sudah ada sejak aku masih Taman Kanak-kanak, tapi toh juga engga berhasil menghilangkan rokok dari bumi Indonesia.

Untunglah, aku tidak dibayar oleh perusahaan rokok untuk melawan kampanye anti rokok. Dengan sentilan kecil, bisa-bisa aku meluncurkan kampanye bahwa kampanye anti rokok adalah kegiatan bodoh .... huahahaha ...

Iklan: Evolusi Kesadaran Manusia FTA ASEAN-China

"Why does this applied science, which saves work and makes life easier, bring us so little happiness? The simple answer runs: Because we have not yet learned to make sensible use of it."
- Albert Einstein -

Fungsi dasar iklan adalah memberitahukan adanya sebuah produk untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi karena produk tersebut harus bersaing dengan produk lain, maka iklan tidak cukup hanya memberitahukan. Iklan harus bisa memberikan nilai tukar, yaitu memberikan image/brand/citra kepada suatu produk kemudian mempertukarkannya dengan nilai di dalam diri para konsumennya.

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi dengan iklan perang tarif antar operator telpon seluler. Perang iklan ini menjadikan mengembalikan iklan ke dalam fungsi dasarnya. Sehingga, iklan pun dibuat tanpa mempedulikan aspek 'branding'. Publik pun akan memilih operator bukan karena citra dari sebuah merk melainkan harganya yang murah.

Perang tarif antar operator ini mulai terjadi sejak diluncurkannya operator seluler berbasis CDMA yang menawarkan tarif lebih murah. Selanjutnya, hampir semua operator segera banting harga tanpa mempedulikan image/citra merk-nya.

Sikap tidak peduli merk ini menjalar ke produk lain, yaitu produk China. Kita tentu ingat, sebelum antar operator ponsel melakukan perang tarif, kita disuguhi dengan motor buatan China dengan merk Jialing. Merk ini mendapat cap sebagai barang murahan dan tidak mendapat tempat di Indonesia. Kini. Made in China bukan lagi barang murahan, seiring dengan membaiknya kualitas produk-produk China.

Walau bagaimanapun, branding yang dibentuk oleh produsen motor dari Jepang terjaga dengan sangat baik sehingga sampai saat ini tak tertembus oleh merk-merk China. Berbagai event digelar untuk menunjukkan perbedaan signifikan antara motor China dengan Motor Jepang. Disinilah letak pentingnya nilai tukar dari image sebuah merk produk.

Namun, China tidak tinggal diam. Pabrik sepeda motor China mengisi pangsa pasar yang tidak diolah oleh produsen sepeda motor Jepang, yaitu sepeda motor roda tiga. Dengan mengisi celah ini, produsen China dapat mulai membangun jaringan after sales service yang kelak akan dapat mengatasi kegagalan merk Jialing.

Tidak hanya merk Jialing, produk alat-alat otomotif kendaraan roda empat juga sudah mulai menguasai pangsa pasar Indonesia. Ini merupakan langkah awal yang hebat sebelum meluncurkan produk kendaraan beroda empat buatan China ke Indonesia.

Mungkin benar kata para leluhur kita, seorang pemburu harus tahu sampai kapan dia harus menunggu ...

Ada kesalahan di dalam gadget ini