01 Februari 2010

Resesi Amerika: Ketika permasalahan lebih kompleks daripada satu disiplin ilmu.

The New York Times pada tanggal 26 Januari 2010 memuat berita bahwa Obama mengakui telah salah langkah dalam tahun pertama masa pemerintahannya. Tiga hari kemudian enam bank Amrika ditutup, pertanda ekonomi Amerika belum pulih. Berita ini tidaklah mengejutkan bagiku, karena memang tidak mudah bagi Amerika untuk lolos dari resesi.

Struktur ekonomi Amerika telah berubah, yang berarti juga struktur sosial dan politik juga telah mengalami perubahan. Berbagai perubahan ini membuat permasalahan Amerika menjadi semakin kompleks. Sehingga permasalahan ekonomi tidak lagi dapat diselesaikan oleh praktisi ekonomi saja, melainkan harus dicari dari filosofi dasar terbentuknya masalah atau dengan kata lain bahwa ini sudah menjadi urusan Ph.D.

Sayangnya, pendekatan filosofis bukanlah pendekatan yang praktis. Filsafat bukanlah serangkaian prosedur praktis atau tatacara mengatasi suatu permasalahan. Filsafat adalah penjelasan hukum sebab akibat yang bersifat universal dimana kita sendiri yang menentukan prosedur praksis macam apa untuk mendapatan suatu akibat.

Jadi, ketika para praktisi bertengkar untuk menentukan solusi, dan masing-masing memiliki alasan yang benar, maka sudah saatnya kita kembali mengkaji ilmu yang menjadi dasar terbentuknya berbagai disiplin ilmu praktis, yaitu filsafat. Merupakan saat yang tepat bagi kita untuk membuka kembali khasanah ilmu yang dibangun oleh filsuf Yunani dan filsuf jaman kejayaan Islam.

Makanya, dalam tulisan tentang bagaimana Amerika bisa lolos dari krisis, aku menggunakan dasar filosofi Ibnu Khaldun. Dimana aku merumuskan bahwa Amerika akan lolos dari krisis jika ia berhasil menciptakan teknologi yang mengubah budaya modern. Bukan cuma mengubah sistem perindustrian seperti yang dipidatokan Obama dalam pidato inagurasinya, tapi mengubah peradaban.

Mungkin aku ini terlalu nekat ketika menuliskan bahwa perekonomian Amerika bisa diselamatkan dangan perubahan peradaban, yang berarti aku melakukan pendekatan secara filosofis layaknya Ph. D.

Ketika aku mengikuti forum diskusi sains di BBC dimana aku mempertahankan teori pemahaman fisika quantum yang aku kembangkan, awalnya banyak yang mempertanyakan hal-hal teknis. Setelah semua hal teknis dapat aku jawab, mulai banyak yang membalas teoriku dengan caci maki yang tidak berkaitan substansi teoriku. Mungkin karena sudah tidak lagi bisa menemukan kesalahan teoriku sehingga mereka mulai mencari kesalahan kepribadianku.

Untunglah ada seorang penulis buku sains yang mengatakan bahwa caci maki seputar kepribadianku berasal dari para praktisi yang belum mempelajari filosofi dari ilmu yang mereka pelajari. Kemudian dia mengajukan satu pertanyaan yang membuatku sedikit percaya diri, yaitu “Are you a Ph. D.?”

Jadi, harap maklum jika aku yang berlatar belakang teknik bikin tulisan filosofis di blog ini dengan amat sangat NARSIS! Hahaha .......

Eits, terima kasih telah mengunjungi media narsis ini yah ....

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini