28 Februari 2010

Paradoks: Studi Keseimbangan Sistem Pertumbuhan

"Problems cannot be solved at the same level of awareness that created them."
- Albert Eistein -

Pada tahun 2003, para pakar ekonomi Amerika memuja kemajuan ekonomi habis-habisan. Para "praktisi ekonomi" dengan antusis berkoar tentang angka-angka yang terus meningkat. Para "pakar ekonomi" pembantu Presiden George Bush pun menyerigai sinis kepada para pengamat ekonomi yang mengingatkan bahwa ada paradoks dalam kemajuan ekonomi saat itu.

Para "praktisi ekonomi" yang tengah horny dengan profit yang diperoleh, tidak akan berpikir panjang terhadap anomali bahwa perusahaan manufaktur seperti General Motor melipatgandakan profit melalui skema kredit. Sehingga sedikit sekali pengamat ekonomi pro pemerintah yang memahami bahwa profit macam ini dapat menghancurkan sektor manufaktur yang sesungguhnya adalah bibitnya profit.

Kini, ketika pertumbuhan ekonomi kebanggaan Bush berubah menjadi krisis, banyak "praktisi ekonomi" Amerika yang malu mengakui dan membuka kembali artikel-artikel lama tentang peringatan krisis. Akibatnya, para pakar itu engga tahu akar penyebab krisis. Mereka menyusun berbagai rencana, dimulai dengan paket stimulus sejak akhir masa pemerintahan Bush hingga awal pemerintahan Obama. Hasilnya? Januari 2010 Obama harus mengakui bahwa perencanaan ekonominya belum benar.
>>read more>>

Pertanyaannya, kenapa pemerintahan Bush bisa sedemikian sinis terhadap peringatan akan adanya krisis? Ada banyak sebab namun satu penyebab utama adalah karena tidak mudah memberikan penjelasan dari sebuah paradoks. Hal ini menyebabkan tidak banyak yang memahami peringatan tersebut bahkan menganggap peringatan itu sebagai tindakan provokatif konyol.

Belajar quantum paradoks adalah memposisikan diri di tempat yang lebih tinggi sehingga dapat memandang segala permasalahan dengan jelas. Seperti yang dikatakan Einstein, "In order to be immaculate of a flock of sheep, one must above all be a sheep oneself". Dan pandangan yang jernih akan membuat kita mampu melihat paradoks sehingga mengerti kelemahan sistem yang kita jalani sehingga kita dapat menyiapkan antisipasinya.

Mempelajari paradoks bertujuan untuk mengkaji apakah sebuah sistem masih dapat berkembang atau tidak. Sebuah sistem akan dapat berkembang jika paradoks yang ditimbulkan oleh sistem tersebut dapat "dialirkan" menjadi feedback. Jika paradoks itu mengalir ke luar sistem maka sistem utama akan terhenti. Di sisi lain, jika sebuah sistem tidak memiliki paradoks sama sekali, maka sistem itu lambat laun akan terhenti pula.

Lalu, apakah paradoks itu?

Paradoks dapat dipahami melalui pernyataan, "Jangan percaya aku.". Jika Kamu percaya aku maka sebenarnya kamu engga percaya dengan pernyataanku. Jika kamu percaya pernyataanku maka berarti kamu percaya aku. Inilah paradok dalam sebuah pernyataan. Sedangkan paradok sebuah sistem memiliki gambaran yang lebih kompleks. Namun tetap bersandar pada konsep paradok pernyataan di atas dalam frame yang dinamis.

Masalah besar dalam mempelajari sistem paradoks adalah adanya perubahan cara padang dan cara berpikir yang membuat kita merasa asing dengan lingkungan sekitar. Hal ini bisa membuat kita melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan pemikiran orang awam alias mirip orang gila. Jadi persiapan intelegensia tidaklah cukup untuk mempelajari quantum paradoks. Diperlukan kedewasaan serta yang paling utama adalah "keberanian". Seperti yang pernah diungkapnya Einstein:

"Great spirits have always found violent opposition from mediocre minds. The latter cannot understand it when a man does not thoughtlessly submit to hereditary prejudices but honestly and courageously uses his intelligence."

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini