23 Februari 2010

Kilas Quantum : Keseimbangan Jiwa dan Raga

"Relativity teaches us the connection between the different descriptions of one and the same reality."
- Albert Einstein -

Kecepatan cahaya hadir di dalam diri manusia dalam bentuk loncatan-loncatan listrik pada sel syaraf otak. Dan Einstein mengatakan bahwa kecepatan cahaya adalah kecepatan absolut yang berarti tak ada lagi jarak ruang dan waktu. Tak ada lagi jarak antara matahari dan bumi, keduanya menyatu sebagai entitas keabadian. Sayangnya, tak banyak orang yang dapat memberikan gambaran betapa dunia tempat kita hidup adalah sebuah ruang quantum yang relatif. Makanya sampai sekarang, belum ada orang yang dikatakan mampu menggantikan Albert Einstein.

Kita memang belum pernah berjalan dengan kecepatan cahaya, namun ada sebagian organ tubuh kita yang mampu bereaksi dengan kecepatan cahaya, yaitu sel syarat otak. Melalu sel-sel inilah kita menjalani pengalaman menembus kecepatan cahaya. Sehingga tak heran jika konsep ruang waktu dan kecepatan absolut telah dipelajari manusia jauh sebelum Newton mengemukakan teori gravitasi. Konsepsi hilangnya jarak ruang dan waktu di jaman dahulu, dapat dilihat dari petuah Orang Jawa kuno yang mengatakan "curiga majing warangka, warangka manjing curigo" (keris memasuki sarung, sarung memasuki keris). Ini mirip dengan penyatuan bumi dan matahari pada alinea di atas.

Orang Jawa, atau orang Asia pada umumnya, telah menyadari kehadiran kecepatan cahaya tanpa ruang-waktu ini. Sehingga berkembanglah filosofi timur yang menemukan bentuk persamaan di dalam sebuah paradoks dan berkembang menjadi spiritualisme. Sehingga spiritualisme adalah hasil evolusi manusia atas organ tubuh yang berkerja dengan kecepatan cahaya. Sehingga mengabaikan spiritualisme adalah langkah mundur yang menurunkan hasil evolusi syaraf otak.

Untuk menemukan kecepatan cahaya di dalam diri manusia, orang timur menjalani bentuk-bentuk penyerahan diri untuk mengontrol aktivitas loncatan listrik syaraf otak. Penelitian otak menunjukkan bahwa kita hanya menggunakan organ otak kita kurang dari 5%. Hal ini terjadi karena terlalu banyak 'informasi sampah' yang harus diproses oleh otak sehingga terjadilah "bottle necking". Lain halnya jika informasi yang diolah otak adalah informasi yang esensial, maka seluruh organ otak akan bekerja.

>> selanjutnya >> Restricted

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini