09 Februari 2010

FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

"The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift."
- Albert Einstein -

Pengantar:
Tulisan ini tidak disusun dengan Metode Ilmiah klasik, melainkan dengan pola Quantum yang meloncat-loncat dan terpatah-patah. Jika dipahami secara parsial dapat berkontradiksi satu sama lain. Pemahaman hanya bisa ditangkap setelah membaca keseluruhan. Karena demikianlah pemahaman ilmu kuantum yang tidak akan membedakan antara bidang makro dengan bidang mikro, semuanya berada dalam satu sistem pemahaman.

Aku harap, bagian akhir dari tulisan ini dapat memberikan gambaran penyatuan locatan-loncatan tiap bagian tulisan ke dalam satu pemahaman.


Perubahan

Minat investor China berinvestasi di bidang Sumber Daya Alam cukup tinggi, terutama pada bidang migas, pertambangan dan perkebunan (kelapa sawit). Investasi ini perlu diawasi agar jangan sampai seluruh kekayaan alam kita diangkut ke China, persis seperti pengangkutan tanah Tembagapura yang mengandung emas oleh Freeport sebelum era reformasi dimana kandungan emasnya tidak dipublikasikan.

Sumber Daya Alam kita adalah bahan baku bagi industri dalam negeri, sehingga pengangkutan hasil sumber daya alam kita dapat membuat industri dalam negeri kesulitan bahan baku. Kasus kesulitan bahan baku sudah terjadi pada industri rotan di Pulau Jawa, kalo gak salah industri furniture rotan di Cirebon. Hal ini sudah terjadi sebelum FTA sendiri dilaksanakan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa bahan baku lain juga akan kesulitan jika investor China makin agresive.
>> read more >>


Disamping kesulitan bahan baku, industri dalam negeri masih harus bersaing harga dengan produk China. Industri furniture di Jogja, PT. Agios dan PT. Eden, harus gulung tikar di awal pelaksanaan FTA. Sementara itu, perusahaan garmen PT Wetapusaka Kusuma harus bergelut dengan penurunan order.

Di sisi lain, produk murah akan menguntungkan konsumen. Beragam produk baru akan menjadi bagian keseharian masyarakat kita yang tidak menutup kemungkinan mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat. Produk komputer murah dan ponsel dengan kemampuan akses internet telah membuat gerakan massa menemukan tempatnya di dunia maya. Produk traktor murah telah mengubah hubungan interaksi antara petani dengan teknisi mesin sekaligus meningkatkan konsumsi solar. Dan telah banyak perubahan yang terjadi dari kehadiran berbagai produk murah dari China, dan mungkin masih banyak lagi perubahan yang akan datang.

Pertanyaannya, apakah perubahan tersebut akan mengarah pada keadaan yang memuaskan publik secara luas? Ataukah akan mempertajam kesenjangan?


Berawal dari Euphoria Ekonomi Tahun 2000

Masih jelas terbayang jelas gembar-gembor bisnis on-line menjelang tahun 2000? Gembar gembor ini membuat bisnis yang berkaitan dengan barang cetakan mengalami tekanan karena internet senantiasa menggambarkan aktivitas dunia tanpa kertas. Ini yang membuat raksasa foto kopi Xerox merugi 167 juta US Dollar dan memangkas ribuan karyawannya di tahun 2000.

Pada tahun 2000, ternyata gembar-gembor internet tidak seindah yang dibayangkan. Adaptasi masyarakat dengan sistem internet tidak secepat yang diramalkan. Bahkan tumbuh resistensi terhadap dunia internet karena dikhawatirkan dapat menghilangkan interaksi sosial. Di tahun ini pula, tak sedikit saham bluechip berjatuhan diiringi dengan runtuhnya berbagai perusahaan dotcom. Industri otomotif yang bermimpi akan menjadi tulang punggung delivery produk dari bisnis on-line juga harus menghadapi kenyataan pahit. Efek domino keruntuhan ini meluas dan mengakibatkan kelesuan ekonomi dunia.

Jika melihat struktur perekonomian dunia seperti penjelasan di atas, maka kegagalan perekonomian terletak pada kegagalam membentuk sistem perdagangan on-line. Aku belum menemukan penyebab kegagalan ini. Mungkin kegagalan ini lebih disebabkan karena kecanggungan konsumen berinteraksi dengan komputer serta masih rendahnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap pelaku bisnis on-line. Scam dan fraud merajalela saat itu. Mungkin salah satu solusi yang perlu dikembangkan saat itu adalah regulasi dan pengembangan teknologi internet agar memungkinkan untuk dijadikan sebagai media interaksi bisnis maupun interpersonal.

Aku engga tahu apakah The Fed alias Bank Sentral Amerika memahami struktur kegagalan ekonomi dunia ini. Yang pasti, The Fed memangkas suku bunga habis-habisan demi memancing peningkatan pertumbuhan ekonomi Amerika. Namun regulasi dan usaha membuat internet lebih humanis tidak tidak kunjung muncul. Saat yang bersamaan, produk murah China mulai menyerbu pangsa pasar Amerika yang juga lolos dari upaya regulasi.

Penetrasi barang-barang produk China yang murah dan sangat beragam menyulitkan produsen lokal, baik untuk mempertahankan maupun memproduksi serta meluncurkan barang baru. Para produsen yang gulung tikar, enggan berkompetisi langsung dengan produk China. Mereka pun terjun ke dalam bisnis investasi yang tidak perlu bersaing dengan produsen China. Trend bisnis investasi yang berkembang di Amerika saat itu adalah bidang property. Jadinya suku bunga rendah The Fed malah justru lari ke bisnis property. Endingnya, kita semua tahu, krisis subprime mortgage.

Krisis Subprime Mortgage telah mengubah struktur ekonomi dan sosial Amerika Serikat. Membangun kembali struktur seperti era sebelum tahun 2000 sudah hampir mustahil. Sepertinya, Amerika Serikat harus menjadi pelopor peradaban baru untuk dapat menjadi episentrum dunia. Di sisi lain, ketergantungan Amerika terhadap produk China telah membuat China menjadi kekuatan raksasa yang tak terbendung. Kini, raksasa itu tengah bergerak ke ASEAN.



Penetrasi Produk China di Indonesia

Sayangnya, rencana pemerintah hasil rapat di Istana Cipanas belum memberikan gambaran yang jelas mengenai arah kebijakan menghadapi FTA. Jadi, pihak-pihak yang terancam dengan adanya FTA juga sulit untuk bergabung dalam rencana besar pemerintah dan menjadi bagian dari solusi setelah dilaksanakannya FTA.

Hal ini dapat dimaklumi karena masih sulit memperkirakan sejauh mana sumber daya alam kita mampu menopang perekonomian dalam negeri, dan sejauh mana deindustrialisasi akan menjalar di Indonesia. Namun bukan berarti kita hanya bisa duduk diam menunggu keajaiban.

Penetrasi produk China yang mencoba menggeser produksi lokal sudah terjadi sejak awal tahun 2000-an. Boleh dikatakan bahwa penetrasi awal produk China belum sepenuhnya berhasil. Kegagalan layanan purna jual sepeda motor China merk Jialing menjadi icon yang menyatakan bahwa produk China berkualitas buruk.

Namun China tak kehabisan akal. China tidak lagi menjiplak produk dan memberi merek sendiri, justru menggandeng merk-merk besar. Sehingga dapat ditemui produk-produk bermerk Eropa dan Amerika namun berlabel “Made in China”. Dan strategi ini ternyata sangat berhasil. Lihat saja, betapa sulit bagi orang awam untuk membedakan produk mesin genset merk Perkins yang asli dari Inggris dengan yang buatan China.

Setelah sukses menggandeng merk besar, China mulai meluncurkan produk dengan merk sendiri disertai dengan promosi “Buat apa beli yang mahal jika sebentar saja teknologi akan berubah”. Dan promo ini sangat manjur untuk produk komputer. Dan ternyata produk komputer China tidak jelek-jelek amat, bahkan aku yang menggunakan mainboard bermerk China merasa mendapatkan pelayanan on-line yang cukup memuaskan ketika aku kehilangan driver mainboard. Sejumlah konsumen yang merasa puas dalam menggunakan produk China berpeluang membuka diri untuk menerima produk China non komputer. Dan kini, penerimaan masyarakat terhadap produk China memang sudah besar, kan?

Strategi dan proses penetrasi produk China sedemikian fleksibel dan adaptif, maka kita harus berpikir berulang kali jika harus berhadapan langsung dengan produk China. Kecuali kalau emang kita memiliki kemampuan penyusunan perencanaan yang lebih fleksibel dan adaptif.


Strategi Hambatan Nontarif

Dengar-dengar, pemerintah mau menerapkan hambatan nontarif untuk menghadapi FTA. Meskipun pemerintah tidak merinci bentuk kebijakannya, strategi ini patut diberi dukungan karena telah terbukti berhasil memberikan dampak positif bagi Indonesia. Hambatan nontarif telah ’memaksa’ importir terigu di Indonesia harus membuat pabrik sendiri di Indonesia. Hal ini membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia sekaligus menjadi bukti keberhasilan strategi hambatan nontarif.

Keberhasilan hambatan nontarif pada perdagangan tepung terigu di atas jangan membuat kita terlena. Tidak tertutup kemungkinan produsen terigu asing bisa melakukan investasi teknologi yang sedemikian hingga dapat menembus hambatan nontarif.

Hambatan nontarif ini menjadi benteng bagi produk Indonesia dalam menghadapi serbuan produk China. Namun perlu diingat bahwa serbuan peroduk China bukanlah sebuah tahapan yang bisa diusir dengan sekali tangkis. Secara kontinyu, produk China akan terus menyerbu dengan strategi penyerbuan yang semakin efektif. Jika benteng yang kita bangun tidak diperkuat secara kontinyu, benteng itupun akan jebol.

Perlu disadari pula bahwa adaptifitas dan fleksibilatas strategi pemasaran produk China tidak bisa dianggap remeh, maka harus diakui bahwa kemungkinan besar banyak produk China akan dengan mudah lolos dari hambatan nontarif. Ada banyak cara menembus hambatan nontarif, mulai dari investasi teknologi hingga dengan cara illegal seperti penyelundupan. Sehingga hambatan nontarif untuk melindungi industri dalam negeri akan banyak menguras waktu, biaya dan tenaga, dengan kemungkinan keberhasilan mendekati nol.

Jika belajar dari kasus tepung terigu di atas, maka ada baiknya jika hambatan nontarif tidak ditujukan untuk memproteksi industri dalam negeri, melainkan untuk menumbuhkan iklim dunia usaha yang positif.

Untuk memperkuat benteng, ada baiknya jika kita menelaah keunikan dan keaslian Indonesia sebagai bagian dari peraturan hambatan nontarif. Makin kita memperkuat keunikan yang hanya dimiliki oleh Indonesia, makin sulit produk asing melakukan penetrasi pasar. Ada baiknya pula jika kita sejenak mengabaikan ilmu-ilmu dari Amerika maupun Inggris, dan kembali kepada ilmunya para leluhur kita.


Strategi Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Pemanfaatan Sumber Daya Alam menjadi strategi alternative dalam menghadapi FTA. Perlu disadari bahwa sumber daya alam yang dimaksud adalah sumber daya yang dikelola oleh sistem korporasi kapitalis. Sistem korporasi kapitalis dapat menguasai seluruh sumber daya alam tanpa menyisakan sedikitpun untuk masyarakat kecil. Jadi diperlukan sebuah keseimbangan pengelolaan sumber daya alam sehingga buah kakao yang ditanam Nenek Minah di kebunnya dapat menjadi komoditas ekspor.

Keseimbangan pengelolaan sumber daya alam antara korporat dan rakyat bukanlah keseimbangan yang stabil, namun sebuah keseimbangan kritis. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang kontinyu agar produksi rakyat memenuhi standar kulitas ekspor dan pihak korporat tidak bertindak seperti layaknya pemerintah kolonial belanda yang melaksanakan sistem tanam paksa (culture stelsel).

Pendekatan yang dapat dilakukan agar produksi rakyat/UKM memiliki kualitas internasional adalah dengan mendorong peran koperasi bersertifikat ISO untuk mendampingi rakyat /UKM melakukan kegiatan produksinya. Koperasi berstandar ISO ini pulalah yang akan membantu eksportir untuk menerbitkan Certificate of Origin atas hasil produksi rakyat/UKM yang selama ini menjadi hambatan eksportir Indonesia menembus negera tujuan ekspor.

Pola di atas dapat menjamin distribusi kemakmuran dari ekspor hasil kekayaan alam kita sekaligus membuka peluang bagi UKM untuk melaksanakan ekspor. Sehingga hasil kekayaan alam kita tidak hanya dikuasai oleh sebagian kecil kapitalis besar, namun bisa mengalir ke lapisan masyarakat bawah.


Dampak Ekspor Besar-besaran Hasil Sumber Daya Alam

Kesulitan bahan baku industri seperti yang disampaikan dalam bagian awal tulisan ini ridak terelakkan pada saat ini, sejumlah pelaku industri lokal sudah menunjukkannya. Namun, keterlibatan koperasi dalam meningkatkan produksi hasil sumber daya alam dapat mengkatkan produksi dan ujung-ujung menyisakan bahan baku untuk industri lokal, bukan?

Hanya saja uang menjadi pertanyaan adalah perlukah kita mempertahankan industri lokal yang kelas-jelas kalah bersaing? Akan menjadi polemik berkepanjangan jika pertanyaan ini diarahkan pada kajian moral. Namun sepertinya kurang bijak jika pertanyaan ini dibawa ke arah kajian moral sebab pertanyaan ini menyangkut kelangsungan hidup. Akan lebih bijak jika kajian diarahkan kepada sejauh mana kelangsungan hidup industri lokal itu sendiri.

Jika kajian kelangsungan hidup menunjukkan bahwa industri lokal tidak layak bertahan hidup, maka diperlukan tindakan moral yang mendorong pelaku usaha untuk mengalihkan usahanya menjadi usaha yang lebih prospektif. Tentu saja dorongan moral ini perlu disertai dengan kebijakan dan tindakan yang juga mendorong pelaku usaha mengkonversi usaha.

Namun, jika kajian kelangsungan hidup menghasilkan inovasi yang memungkinkan industri lokal dapat bertahan dan mungkin justru berkembang, maka tidak banyak diperlukan dorongan moral melainkan dukungan teknis tindakan dan kebijakan.

Jadi, dalam menghadapi gejolak ketersediaan bahan baku, maka hal yang terbaik adalah memberikan penilaian terhadap pelaku usaha satu demi satu. Sehingga proses ”seleksi alami” dapat berlangsung secara adil. Tidak menghabiskan biaya, waktu dan tenaga untuk mempertahankan serta tidak pula kecolongan jika industri lokal dipandamkan.


Tantangan Internal Pengelolaan Sumber Daya Alam

Jika melihat pengelolaan lingkungan kita, sepertinya masih banyak PR yang harus dikerjakan. Kebakaran hutan di musim penghujan, eksportir timah terbesar adalah Singapura sementara penambangan timah terbesar adalah Indonesia, pengeboran minyak berujung under ground blow out dinyatakan sebagai bencana alam, masih banyak infrastruktur pendukung eksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam yang menyedihkan, kekayaan laut yang sering dicolong pihak asing, bencana banjir terjadi berulang kali, dan entah masih berapa banyak lagi.

Kenapa bisa semikian banyak permasalahan di negeri ini yang tak kunjung usai? Setidaknya ada dua jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban pertama adalah karena kita hanya mengulang-ulang solusi yang sama untuk menyelesaikan permasalahan yang sama. Jika suatu masalah diselesaikan dengan solusi yang sama seperti masalah sebelumnya, maka dijamin solusi tersebut akan terus menimbulkan masalah yang sama.

Jawaban kedua adalah karena solusi yang memang tidak menyelesaikan masalah. Contohnya adalah kasus semburan lumpur Lapindo. Jika kita terus berusaha mengulang-ulang berbagai usaha untuk menghentikan semburan lumpur, maka tidak akan pernah ditemukan penyelesaian sampai semburan itu berhenti dengan sendirinya (yang menurut para ahli adalah sekitar 30 tahun).

Kedua hal diatas terjadi karena perencanaan identik dengan proses copy-paste program lama dan sikap kita yang cenderung memperlakukan ilmu pengetahuan sebagai aturan hukum yang lebih benar daripada kebenaran kitab suci. Jalan untuk menemukan terobosan adalah dengan tidak memperlakukan ilmu pengetahuan seperti aturan hukum. Ilmu pengetahuan harus dilanggar, dimanfaatkan, dimodifikasi, dikembangkan dan seterusnya.


Bunga Bank di tengah penetrasi produk China

Mungkin kita masih bisa mengingat bahwa beberapa negara besar memilih untuk menurunkan suku bunga ketika Pemerintah Indonesia justru meningkatkannya. Awal tahu 2008 Bank of England menurunkan suku bunga meskipun inflasi terus merangkak naik hingga 5.2% di bulan September 2008. Di bulan Oktober Bank of England kembali menurunkan suku bunga dari 5% menjadi 4.5% dan hasilnya inflasi menurun dari 5.2% menjadi 4.5%. Penurunan inflasi terus terjadi seiring dengan penurunan suku bunga hingga September 2009. Inflasi di bulan Desember 2009 menunjukkan bahwa peredaran uang dan barang telah menemukan keseimbangan sehingga Bank of England pun bersiap mengoreksi suku bunganya.

Pemahaman umum dalam ekonomi menyatakan bahwa penurunan suku bungan akan menimbulkan kenaikan inflasi. Tapi pemahaman ini tidak berlaku di Inggris terutama pada September 2008. Ada apa dengan pemahaman ilmu ekonomi?

Ada kemungkinan bahwa salah satu alasan kenapa bunga bank dipatok rendah adalah karena banyaknya jumlah barang yang beredar di pasaran semenjak penetrasi pasar China. Dengan demikian, rasio nilai barang yang beredar sebanding dengan peredaran uang, sehingga inflasi pun tidak liar. Aku engga tahu apakah ilmu ekonomi akan menerima logika ini, namun secara filosofis logika ini masih masuk akal. Jadi tak heran jika akhirnya aku menemukan berita di Peoples Daily Online yang memberitakan bahwa produk China mencegah inflasi di Argentina.

Jika hingga saat ini, ekonomi negara-negara maju yang menerapkan suku bunga rendah, masih terpuruk maka keterpurukan ini merupakan proses menuju kepada keseimbangan baru. Sesuai dengan hukum alam bahwa setiap ada perubahan maka akan ada kekacauan pada level tertentu, dan akan kembali normal setelah tiap-tiap komponen menemukan sistem keseimbangan baru. Hanya saja kita tidak tahu bagimanakah bentuk keseimbangan yang akan terjadi, apakah keseimbangan tersebut akan tetap menempatkan mereka sebagai negara maju atau tidak.

Pilihan untuk mengendalikan inflasi daripada mengendalikan nilai tukar adalah keputusan bijak. Sebab perubahan nilai tukar tidak akan banyak mempengaruhi harga produk lokal murni terutama bahan pokok. Disisi lain, serbuan produk China yang murah tidak akan banyak terpengaruh oleh perubahan nilai tukar, sehingga efek inflasinya cederung rendah. Karena inflasi yang tinggi dapat menggiring kekacauan ekonomi menjadi kerusuhan massa.


Kesimpulan

Perubahan akibat FTA diakibatkan penurunan tarif dan penghapusan kuota. Keduanya akan meningkatan intensitas perdagangan yang akan mendorong perubahan pola ekonomi dan sosial masyarakat yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Sehingga perlu kontrol agar perubahan tidak mengarah pada kondisi terburuk.

Kondisi paling buruk adalah deindustrialisasi dan penguasaan sumber daya alam oleh kelompok tertentu. Jika deindustrialisasi tak terhindarkan, maka perlu mekanisme yang menjamin bahwa pengelolaan dan hasil sumber daya alam dapat terdistribusi dengan baik ke seluruh lapisan masyarakat.

Hasil sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan korporasi besar sebaiknya dapat mengalir kepada masyarakat marginal untuk menjalankan pemeliharaan fasilitas publik di perkotaan, juga mengalir kepada masyarakat pegunungan dan pedesaan untuk menjalankan pengelolaan lingkungan. Distribusi kekayaan untuk pemeliharaan fasilitas kota memungkinkan terjaganya daya beli masyarakat marginal sekaligus meningkatkan ketertiban di perkotaan. Sedang pengelolaan lingkungan dapat meningkatan produktifitas pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat, baik untuk pemenuhan kebutuhan pokok dalam negeri maupun untuk orientasi ekspor.

Melimpahnya produk murah China memungkinkan penambahan peredaran uang tanpa kekhawatiran besar terhadap inflasi. Justru semakin banyak peredaran uang memungkinkan setiap masyarakat mendapatkan aliran distribusi kekayaan hasil sumber daya alam, tanpa mengganggu “jatah” kaum kapitalis. Dengan demikian, terangkatlah kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan menimbulkan kebutuhan yang semakin beragam. Pemerintah bisa pusing dibuatnya. Tapi itulah esensi pembangunan, pembangunan adalah proses, bukan target sekali jadi kemudian usai. Kita harus berusaha agar proses itu berkembang, tidak hanya berulang-ulang ataupun mandeg.


Penutup

Permasalahan abad 21 sudah tidak dapat disederhanakan dengan logika sains klasik sebagaimana Fisika Newtonian, sehingga tak sedikit yang gagal melakukan prediksi. Alih-alih mencari metode pendekatan alternatif diluar logika ilmiah klasik, para cerdik cendekia memberikan penilaian bahwa dunia berada di alam ketidakpastian dan kekacauan. Seakan sudah tidak ada lagi ilmu yang dapat dipakai untuk memahami gejolak dunia.

Situasi ini mirip dengan perkembangan ilmu fisika di tahun 1900-an, dimana pada saat itu hampir setiap fisikawan berasumsi bahwa ilmu fisika sudah sampai pada titik nadir dan tak ada lagi yag dapat dipelajari. Namun asumsi itu terbantah ketika ilmu fisika menghadirkan fenomena Quantum. Fisika quantum menunjukkan bahwa ternyata banyak fenomena alam yang masih misterius, dan tak terjangkau oleh fisika Newtonian.

Kini, banyak buku yang mulai mengupas kompleksitas permasalahan dunia. “The Tipping Point”, “Blink”, “Microtrend”, dan masih banyak lagi buku yang mencoba mengupas fenomena ketidakpastian dan kekacauan. Dan ada satu kesamaan dari buku-buku tersebut, bahwa penjelasan terkesan meloncat-loncat, terpatah-patah dengan kesimpulan yang masih penuh pertimbangan, bahkan tanpa kesimpulan sama sekali.

Namun, ada satu hal yang sangat kuyakini bahwa betapapun kacau dunia ini, tetap saja berada di bawah pengaturan Tuhan. Tuhan-lah yang paling memahami kompleksitas permasalahan dunia, dan Tuhan tidak akan pelit kepada umatnya. Jika umatnya memohon dengan tulus agar dianugerahi pemahaman atas peliknya permasalahan dunia, Tuhan pastilah akan memberikannya.

Jadi, kepada para pengambil kebijakan, aku mohon, agar meluruskan niat untuk memberikan kesejahteraan kepada bangsa, agar bangsa ini terhindar dari kemiskinan yang dekat dengan kekufuran. Bulatkan niat tersebut ke dalam tindakan di jalan Tuhan dan selalu memohon akan petunjuk-Nya.

Niat yang tulus dan menempuh jalan Tuhan tidak akan pernah menimbulkan kerugian. Apakah para tentara yang tewas selama Perang Salib mati sia-sia? Tidak, mereka bertempur di jalan Tuhan karena bertempur secara ksatriya dan gagah berani, bukan seperti dosen pengecut dari Malaysia yang memasang bom di antara orang-orang tak berdaya kemudian bersembunyi tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku meyakini, meski aku tidak setuju perang dan tidak ada alasan pembenaran perang, banyak tentara Nasrani maupun tentara Muslim gugur dalam Perang Salib dengan kualitas keimanan yang sangat berkilau.

Ah ... menuliskan tentang Perang Salib membuat aku pengen dengerin lagunya Epica kesukaanku, “The Last Crusade”.

Demikian tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat.

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini