12 Februari 2010

Eyang Kakung George Soros Ternyata Seorang Pemikir Kuantum

"Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who read too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking."
 - Albert Einstein -

Sewaktu baca-baca pemikiran Eyang George Soros, aku terheran-heran sendiri. Bagaimana tidak, pemikiranku tentang ekonomi ternyata sejalan dengan pemikiran Eyang George Soros! Setelah membaca sekilas biografi Eyang Soros, aku baru sadar bahwa aku menjalankan sistem pembelajaran yang sama dengan Eyang George Soros.

Pada tahun 1956, Eyang Soros berimigrasi ke Amerika Serikat. Dia bekerja sebagai trader dan analis sampai tahun 1963. Selama periode ini, mempelajari filosofi Karl Popper dan mengembangkan “theory of reflexivity”, sebuah ide pencarian untuk menjelaskan hubungan antara pemikiran dengan realitas, yang digunakan sebagai dasar untuk memprediksi meletusnya gelembung ekonomi (economic bubbles). Kemudian dia mulai mengaplikasikan teorinya untuk kegiatan investasi. Pada tahun 1973, ia mendirikan sebuah perusahaan investasi yang dikemudian hari dikenal dengan nama Quantum Fund.

Dari biografi tersebut, aku sadar bahwa aku dan Eyang George Soros menjadikan filosofi sebagai dasar pemahaman realitas yang berujung pada sistem refleks [1]. Namun, setidaknya ada tiga hal yang berbeda. Pertama, Eyang George Soros adalah praktisi ekonomi sedang aku insinyur mesin. Kedua, filosofi dasar Eyang George Soros adalah Mbah Buyut Karl Popper sedang aku menggunakan filosofi Mbah Buyut Ibnu Kaldhun [2].

Perbedaan ketiga adalah perbedaan yang substantif, yaitu perbedaan nasib, aku miskin sedang dia kaya raya! Huahahaha ....

>>> read more >>>


Kemampuan Eyang Soros untuk memprediksi pecahnya economic bubbles merupakan modal utama untuk mengeruk kekayaan. Ia akan melakukan investasi di wilayah yang ekonominya sedang berkembang. Ketika perkembangan itu sudah mulai tidak wajar alias anomali, maka ia segera menarik dana investasinya sebelum perkembangan ekonomi tersebut pecah.

Sehingga wajar jika Soros sering dituduh sebagai penyebab krisis. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa Eyang Soros mengetahui akan adanya krisis dan ia telah melakukan antisipasi sebelumnya. Jadi, meskipun Eyang George Soros tidak melakukan apa-apa, tetap saja krisis itu terjadi karena emang ‘sudah takdirnya’.

Pemerintah yang lamban mengidentifikasi dan mencegah krisis, akan menutupi kelemahannya dengan cara menuding Eyang George Soros sebagai penyebab krisis. Tapi karena Eyang George Soros orang kaya raya, maka masyarakat tidak perlu memberikan belas kasihan atas fitnah dari pemerintahan yang lamban tersebut. Bahkan dampak psikologis krisis membuat masyarakat ikut-ikutan menuding Eyang George Soros.

Eyang Soros sering pula dikaitkan dengan kelompok-kelompok elit seperti Freemason ataupun Illuminati yang mengatur peradaban dunia. Aku sendiri tidak tahu apakah kelompok elit itu ada atau tidak. Tetapi, dalam pandanganku, Eyang Soros tidak mengatur peradaban dunia. Dia hanya memahami siklus peradaban dunia sehingga dia bisa melakukan antisipasi dengan lebih cepat dan tepat, sehingga dia selalu berada di barisan terdepan dalam perubahan peradaban dunia.

Mungkin pembaca tidak akan percaya dengan pengakuan anak laki-laki Eyang George Soros bahwa ayahnya mengambil keputusan penting menyangkut perubahan posisi pasar disebabkan oleh rasa nyeri dipunggungnya. Jika Eyang George Soros sudah pergi ke tempat spa untuk mengurangi rasa nyeri punggung, itu adalah tanda peringatan awal bahwa ia akan melakukan perubahan posisi pasar. Sulit dipercaya bukan? Tapi kalau pembaca memahami penjelasan quantum dari “kepak sayap kupu-kupu di Amazon dapat mempengaruhi tornado di Texas”, maka hal tersebut akan mudah dipercaya.

Aku meyakini bahwa dunia ini tidak diatur oleh segelintir orang, melainkan tetap diatur oleh Tuhan. Siapa saja yang memohon petunjuk-Nya, akan dianugerahi ilham untuk memahami peradaban dunia, karena Tuhan tidak akan pelit terhadap mahluk ciptaannya.

Jadi, daripada capek-capek menghujat Eyang Kakung George Soros, maukah kita belajar dari dia? Bukankah terbuka kemungkinan bahwa kita bisa memiliki kemampuan melebihi George Soros?

PS: Mohon tulisan ini jangan membuat pembaca menilai bahwa aku pecinta Yahudi, aku hanya menempatkan Yahudi sebagaimana mestinya, karna Yahudi juga manusia, sebagaimana Gus Dur membuka hubungan diplomatik dengan Israel ataupun Nabi Muhammad yang juga melindungi orang Yahudi di Madinah.

1 komentar:

Handoko Yuliant mengatakan...

Haii kak mau tanya nihh dimana ya saya bisa dapet buku biografinya George Soros dan bukunya karl popper yang judulnya the open society and it's enemies. Mohon jawabannya kak jika tahu soalnya susah banget carinya di toko buku. Saya membutuhkannya.

Ada kesalahan di dalam gadget ini