19 Januari 2010

Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan Lembaga Integrasi Pembangunan UKP3R?

Pembahasan Kasus Century tak lepas dari UKP3R di dikomandani Eyang Kakung Marsillam Simanjuntak. Ternyata UKP3R memiliki peranan hampir sama dengan konsep Observatory Command Center yang ditulis di Blog ini. Permasalahannya, kenapa Century tetap menjadi masalah meski sudah disupport oleh UKP3R?

Meski hanya sebagian, aku sempat menyaksikan tayangan rapat pansus Century dengan saksi Eyang Kakung Marsillam. Kebetulan tepat saat salah seorang anggota Pansus menyinggung UKP3R. Jadinya kau langsung tertarik mencari tahu lebih jauh tentang UKP3R yang sebelumnya aku engga ngerti sama sekali.

Ternyata UKP3R adalah lembaga yang dibentuk jauh sebelum aku berminat membaca berita-berita seputar pemerintahan. Dukungan pendirian lembaga ini engga cuma dari dalam negeri, Lee Kuan Yew dan McKinsey & Co juga memberikan support. Mungkin, kebutuhan akan adanya lembaga observasi dan koordinasi integrasi di Indonesia di mata Lee Kuan Yew dan McKinsey, sama seperti pandanganku ( hehehe .... narsis dikit).

Hanya saja, dalam kasus bailout Century, sepertinya UKP3R belum ditempatkan sebagaimana layaknya lembaga observasi dan koordinasi integrasi. UKP3R haruslah diintegrasikan dulu dengan lembaga lain sebelum mengintegrasi pembangunan. Tidak seperti KPK yang justru harus diisolasi agar tidak tertular virus korupsi. UKP3R haruslah bertindak sebagai virus yang menularkan sistem integrasi pembangunan ke semua lembaga pelaksana pembangunan.

Pengakuan Eyang Kakung Marsillam bahwa beliau diundang sebagai narasumber doang dalam Rapat Kosultasi KSSK tanpa penjelasan lebih lanjut, menunjukkan bahwa KP3R hanya diundang sebagai pelengkap. Makanya, tak heran jika Eyang Kakung Marsillam mengaku tidak memberikan kontribusi berarti dalam proses bailout.

Mungkin, undangan untuk Eyang Kakung Marsillam sebaiknya dicantumkan deskripsi maksud dan tujuan undangan disertai lampiran data-data bahan pertimbangan yang akan dibahas dalam rapat. Undangan yang tidak disertai materi ini membuat Eyang Kakung Marsillam tidak dapat melakukan kajian awal dengan data-data di UKP3R. Dengan kata lain, rapat konsultasi KSSK tak ubahnya seperti obrolan pepesan kosong di warung kopi angkringan.

Lain halnya jika setiap narasumber diberikan data dan deskripsi permasalahan, maka masing-masing narasumber dapat memiliki solusi. Sehingga rapat akan membahas berbagai alternatif solusi, bukannya berputar-putar membahas penjelasan masalah.

Tak heran jika Dirut Bank Mandiri baru dapat memberikan alternatif solusi setelah rapat berhasil memberikan deskripsi permasalahan. Sayangnya, alternatif solusi itu muncul ketika waktu udah mulai habis. Jadi, tidak ada pembahasan solusi lain secara komprehensif, yang ada hanyalah solusi bailout oleh LPS.

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang bodoh, ada banyak potensi di negeri ini. Cuman, kadang kita sendiri yang tidak dapat menempatkan potensi itu sebagaimana mestinya. Sehingga kita sering ketinggalan dalam banyak hal.

Jadi, apakah bangsa Indonesia sudah belajar dari Kasus Bank Century ataukah akan terus menjadi serial sinetron politik?


oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini