26 Januari 2010

Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan

Bisakah kita membenarkan kebijakan yang baik namun dilaksanakan dengan cara yang salah? Bisa pulakah kita membenarkan kebijakan yang buruk meskipun dilaksanakan dengan cara yang benar?

Kedua pertanyaan di atas adalah garis pemisah antara pandangan konsekuensialis dan pandangan deontologis. Pandangan konsekuensialis adalah bahwa tujuan yangbaik dapat dicapai dengan cara apapun. Pandangan ini memperbolehkan kita berbohong demi tujuan yang baik. Sedang pandangan deontologis digambarkan oleh Immanuel Kant bahwa cara sama pentingnya dengan tujuan. Pandangan deontologis akan menilai bahwa berbohong adalah salah meskipun kebohongan tersebut menyelamatkan banyak nyawa.

Pembahasan sebuah kebijakan dengan dua pandangan yang berbeda di atas dapat menjadi perdebatan berkepanjangan. Terlebih jika pandangan pembahasan kedua pandangan tersebut disertai dengan unsur-unsur emosional, padahal unsur emosional adalah usur yang tak terpisahkan dari dunia pengambilan keputusan kebijakan, alias dunia politik.
 >> read more >>



Sejak jaman Plato, usaha untuk memisahkan unsur emosional dalam aktivitas intelektualitas sudah diusahakan. Meski perluasan kedua dikotomi ini makin dipertanyakan, hampir semua sependapat bahwa berpikir jernih akan sulit jika disertai dengan unsur emosional. Dan politik dapat membangkitkan unsur emosional yang sangat kuat.

Baggini dalam bukunya “Making Sense” menceritakan tentang seorang politisi cerdas mengatakan bahwa konsep yang dibuat oleh Partai Liberal jauh lebih baik. Namun politisi ini tetap mendukung dan berkampanye untuk Partai Buruh. Mungkin kita tidak pernah bisa mengerti tentang kesetiaan macam ini, tapi kita bisa sepakat bahwa kesetiaan semacam tidak bisa dipandang sebagai suatu hal yang baik.

Unsur emosional bukan tidak layak mendapat tempat dalam dunia politik. Jika warga negara yakin bahwa negara dijalankan dengan buruk maka reaksi emosional tidak hanya dapat diterima, melainkan juga diharapkan. Jadi unsur emosional tetap memiliki peranan penting meskipun unsur ini bisa mengaburkan pembahasan suatu masalah menjadi berlarut-larut dan makin carut marut.

Saat suatu kebijakan menjadi permasalahan yang carut marut tak karuan, maka salah satu jalan keluarnya adalah mengembalikan permasalahan tersebut dalam pandangan moral universal, yaitu padangan deontologis atau konsekuensialis.

Mengingat tujuan bailout Bank Century adalah untuk mencegah ‘dampak sistemik’ dan kenyataannya ‘dampak sistemik’ itu benar-benar tidak terjadi, maka secara konsekuensialis kebijakan bailout mengandung kebenaran. Sedangkan pandangan deontologis takkan bisa menerima sebentuk penyelamatan terhadap ‘bank kriminil’. Namun, ‘dampak sistemik’ yang menjadi dasar bailout masih layak diperdebatkan, sehingga kebenaran secara konsekuensialis lebih lemah daripada kesalahan dalam pandangan deontologis.

Kesalahan dalam pandangan deontologis dapat diimbangi, bahkan diruntuhkan. Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan untuk melakukannya. Pertama adalah dengan bukti-bukti bahwa seluruh dana yang dicairkan LPS benar-benar digunakan untuk proses bailout. Tidak ada sepeserpun yang digunakan untuk kepentingan lain selain bailout.

Kedua adalah penjelasan bahwa penggunaan dana tersebut benar-benar mencegah ‘dampak sistemik’. Tentu saja hal ini membutuhkan penjelasan tentang bagaimana tahap-tahap proses ‘dampak sistemik’ itu terjadi jika Bank Century ditutup, diikuti dengan penjelasan bagaimana tahap-tahap pencairan dana bailout mencegah timbulnya tahap-tahap proses ‘dampak sistemik’.

Ketiga adalah proses yang paling menentukan yaitu pengakuan bahwa proses pengambilan bailout memiliki kekurangan. Kekurangan ini telah diidentifikasi agar tidak terulang di masa yang akan datang. Hal ini yang dapat memberikan kepuasan moral pada orang-orang yang memandang kasus Bailout Century secara deontologis.

Yang terakhir, untuk melengkapi langkah ketiga, yaitu meminta maaf kepada pihak-pihak yang harus menjalani berbagai kesulitan akibat keputusan bailout, sekaligus rencana untuk memberikan ganti rugi yang sepadan.

Ketiga langkah di atas hanya dapat disusun jika setiap ungkapan dan kata-kata kritikan dipahami dengan benar, bukan menyelidiki orang yang memberikan kritikan. Jika perhatian kita terus menerus terfokus pada orang yang memberi kritikan, maka akan sampai pada kesimpulan adanya “Barisan Sakit Hati” atau “Barisan Balas Dendam” atau sejenisnya. Kesimpulan ini hanya akan mempertajam perbedaan dan meningkatkan intensitas perselisihan, tak ubahnya seperti usaha provokatif memecah belah bangsa.

Memang, nada kritikan berkesan menunjukkan bahwa kita adalah orang yang salah, bodoh, dungu dan seterusnya. Tapi ada anugerah lain dari sebuah kritikan, yaitu bahwa kritikan bisa menjadi cermin jernih untuk kita berkaca. Tak ada orang yang ingin melihat jerawat ketika bercermin, tapi bukan berarti bahwa cermin itulah yang membuat wajah kita berjerawat. Jika cermin kita kotor, kita cukup membersihkan, bukan memecahkannya.

Jika konsentrasi tertuju pada isi dari kritikan, maka kita justru dapat belajar lebih banyak dan dapat menyampaikan jawaban yang lebih arif dan bijak.

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini