05 Januari 2010

Politik Pencitraan: Pilar Utama Demokrasi?

"If you are out to describe the truth, leave elegance to the taylor"
 - Albert Einstein -
Sewaktu musim kampanye di Amerika, pada Maret 2007 Wall Street Journal memuat berita tentang citra para kandidat presiden. Seberapa pentingkah Pencitraan itu sehingga The Times, The Post dan The Journal juga memuat berita pencitraan kandidat presiden? Kemanakah arah demokrasi sesungguhnya?

Membuka kembali berita-berita lama selama musim pemilu presiden di Amerika membuat aku geleng-geleng kepala. Setidaknya ada dua kubu analisis kandidat presiden. Kubu pertama adalah kubu yang membahas pencitraan personal. Sedang kubu yang kedua membahas program kerja para kandidat terkait dengan berbagai isu yang berkembang.

Percaya atau tidak, justru kubu pertama-lah yang dimotori oleh para American Professor dan American PhD. Pembahasan kubu pertama ini bertengger di harian bergengsi sekelas New York Time, Times dan Washington Post. Sedang pembahasan kubu kedua hanya nongol di Cleveland Plain Dealer ataupun Kansas City Star.

Jadi, Lebih penting mana antara merk dasi presiden atau masalah pengangguran?

Mungkin para profesor dan PhD engga mau kasih penilaian kinerja kandidat presiden karena jika penilaian itu salah maka akan menghancurkan kredibilitasnya sendiri. Sehingga, alih-alih memberikan analisa sesuai bidang keilmuannya, malah berkomentar tentang kepribadian kandidat.

Mungkin pula penilaian kinerja kandidat akan menjadi perdebatan berkepanjangan yang engga efektif buat kampanye.

Pencitraan kepribadian sangat efektif jika diajukan pada orang-orang yang sudah hidup serba berkecukupan atau orang miskin yang bermimpi terlalu tinggi. Jadi, pencitraan akan efektif untuk menjaring orang-orang kaya penyumbang dana kampanye, dan menarik dukungan suara dari orang-orang yang belum beruntung.

Sebatas untuk kampanye sajalah pencitraan itu efektif. Jika musim kampanye berlalu, semua orang mulai terbangun dari mimpi. Orang pun menjadi makin sadar. Makanya, pencitraan Obama yang sangat bagus di masa kampanye tercabik-cabik dalam waktu singkat setelah terpilih jadi presiden. Penjiplaknya dari Indonesia juga mulai kehilangan kepercayaan publik sebelum seratus hari menikmati kemenangan kampanye.

Jika sudah tidak punya kepentingan untuk berkampanye lagi, tak ada salahnya jika berteriak di hadapan bangsanya sendiri, "Kini saatnya kita berkorban demi masa depan bangsa!"

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini