12 Januari 2010

PLN dan PERTAMINA: Apakah Pemerintah sudah Memberikan yang Terbaik?

"Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who read too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking."
- Albert Einstein -

Ketika mendengar penjelasan bahwa bahan bakar untuk pembangkit listrik di Semarang diimpor dari arab, aku mera sedikit heran. Kenapa bahan bakar hasil bumi Indonesia yang lebih bagus justru diekspor sedang untuk kepentingan bangsa sendiri diimporkan bahan bakar berkualitas lebih rendah?

Kabar burung menjelaskan bahwa selisih harga BBM diatas dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara. Okelah, aku bisa menerima meskipun menyisakan satu hal. Yaitu ada kesan bahwa kekayaan alam kita dikelola dengan mental pedagang, bukan mental negarawan, sehingga mengutamakan keuntungan meskipun kebutuhan negeri sendiri terkatung-katung.

Pengakuan Dirut PLN bahwa ESDM menjelaskan tidak adanya bahan bakar gas untuk PLN hingga 2015, adalah bukti adanya mental dagang. Ironisnya, pembangkit listrik di Semarang mendapat suplay gas hasil bumi Indonesia melalui pengelolaan oleh PETRONAS Malaysia! Dan akan makin ironis jika kita mendengar pengakuan pendiri PETRONAS Malaysia bahwa dia mendirikan PETRONAS setelah belajar dari PERTAMINA!

Makanya dalam artikel "Mimpi Menghancurkan PLN" aku mengkaitkan pula dengan mimpi menghancurkan PERTAMINA. Karena aku menduga bahwa pengelolaan energi di Indonesia masih perlu banyak pembenahan.

Bagaimanapun, aku engga pengen lihat PLN dan PERTAMINA hancur. Aku sudah cukup puas dengan pelayanan teknisi PLN dan petugas Pom Bensin PERTAMINA. Hanya saja, kok bisa Pembangkit Listrik PLN Tambak Lorok Semarang bergantung pada PETRONAS Malaysia dan bukannya PERTAMINA? Untuk siapakah PERTAMINA itu ada? Apakah akan dibiarkan bangsa Indonesia menjadi pangsa pasar perusahaan asing bukannya perusahaan sendiri?

Kini, perusahaan swasta bisa membangun jaringan kabel bawah tanah antar kota maupun dalam kota, gimana kalo swasta membangun pembangkit dan mendistribusikan kepada masyarakat untuk menyaingi PLN?

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini