12 Januari 2010

Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, Dokter dan Bank Century

Marilah kita mulai pelajaran dengan menelaah tiga kasus:

Kisah pertama tentang Empat anggota polisi dari Street Crime Unit, New York Police Department,yang melakukan patroli malam di daerah rawan kriminalitas, Wheeler Avenue. Mereka melihat seseorang yang mencurigakan. Mereka segera menghampiri orang tersebut. "Police! Can we have your word?". Orang yang mencurigakan itu tidak menjawab dan mulai merogoh kantong sakunya. Para polisi pun berteriak, "Show me your hands!". Namun orang itu malah mencabut sesuatu berwarna hitam dari dalam kantongnya. "Gun! He's got a gun!" teriak salah seorang polisi. Tembakan polisi pun dilepaskan. Orang yang mencurigakan itu pun roboh. Sesuatu yang ia cabut dari dalam kantongnya adalah sebuah dompet!

Kisah kedua diceritakan oleh seorang pensiunan polisi. Ia dan partnernya tengah mengejar anggota geng remaja. Ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di area TKP, salah seorang anggota geng tiba-tiba berada pada jarak sekitar 5 meter di depan mobilnya. Ia dan partnernya segera keluar dari mobil dan menghampiri sambil memperhatikan anggota geng yang sedang berusaha mengambil sesuatu yang terselip di pinggang. Anggota polisi ini tahu bahwa anggota geng itu tengah berusaha mengambil senjata Crome .25 Auto. Tapi para polisi bergerak mendekati anggota geng tanpa mengarahkan pistolnya, hanya berteriak "Stop! Don't Move!" Bahkan ketika anggota geng tersebut telah berhasil menggenggam senapannya pada jarak kurang dari 3 meter, kedua polisi tetap tidak menembakkan pistolnya. Dan ternyata sang anggota geng tersebut melemparkan senapannya ke tepi jalan.

Kisah ketiga adalah kisah pemadan kebakaran. Sebuah kebakaran terjadi di sebuah rumah yang besar. Api berkobar di dapur. Para petugas pemadam masuk melalui pintu depan dan menyemprotkan air ke arah dapur dari ruang tengah. Tapi api tetap menyala dan tidak bereaksi dengan air yang disemprot. Pemimpin pasukan pemadam tiba-tiba berteriak, "Get out from the house! Now!". Seluruh anggota pemadam segera keluar dari rumah. Beberapa saat kemudian, lantai rumah tsb runtuh dan menunjukkan bahwa sesungguhnya sumber kebakaran ada di ruang bawah tanah. Jika para pemadam terus berusaha memadamkan api di dapur, mereka semua akan tewas terpanggang.

Kisah pertama menunjukkan bahwa para polisi terpengaruh oleh situasi sehingga melakukan penilaian yang salah, mengingat mereka sadar berada di lingkungan kriminal dan baru saja terjadi perampokan bersenjata. Kisah kedua, para polisi mengaku bahwa ia tidak memperhatikan ancaman kekejaman sebuah gang tapi lebih fokus pada ketakutan di raut wajah anggota geng yang sedang dikejar. Sedang dalam kisah ketiga, pemimpin pemadam merasa heran kenapa api di dapur tidak bereaksi dengan air yang ia semprotkan sehingga memerintahkan anak buahnya keluar dari rumah.

Orang mencurigakan dalam kasus pertama tidak berdampak sistemik. Namun karena para polisi terpengaruh oleh pemikiran perampokan bersenjata, maka orang mencurigakan itu dianggap memiliki dampak sistemik. Penanganannya pun fatal.

Anggota geng yang tengah dikejar polisi berpotensi menembakkan senapannya secara sporadis. Kasus kedua sekilas memang menyimpan dampak sistemik. Namun pengamatan yang lebih detail membuat para polisi dapat menyadari bahwa anggota geng tersebut tidak berdampak sistemik. Penanganan menjadi bijak.

Kebakaran di dapur pada umumnya dianggap sebagai kegiatan rutin pemadam kebakaran. Kebakaran akibat kompor meledak sudah biasa dan tidak sistemik. Namun, berbekal pengalaman, pemimpin pemadam dapat menyadari bahwa api di dapur terhubung dengan sumber api yang jauh lebih besar dan berpotensi sistemik. Sehingga penyelamatan api di dapur akan menjadi sia-sia, bahkan dapat membunuh seluruh anggota pemadam.
>> read more >>



Studi untuk menganalisa apakah sesuatu berdampak besar atau tidak, pernah dilakukan dalam kerja sama riset dokter dengan ahli matematika untuk menganalisa indikasi penyakit jantung. Dari hasil study, diperoleh algoritma untuk mengkaji apakah suatu fenomena berdampak besar atau tidak. Dan tahukah Anda, siapakah yang pertama kali memanfaatkan algoritma ini? Justru bukan dunia kedokteran yang memanfaatkannya, melainkan US Navy dan pentagon! Hasil studi iniah yang menginspirasi Pentagon mengadakan latihan perang Millenium Challenge.

Studi ini dikembangkan oleh seorang ahli penyakit jantung (kardiologis) dr. Lee Goldman bersama beberapa pakar matematika. Studi ini dilakukan karena hanya 10 persen dari seluruh pasien yang diduga menderita penyakit jantung benar-benar menderita penyakit jantung. 90 persen pasien hanya menderita nyeri dada yang tidak berkaitan dengan jantung. Bahkan, 2 hingga 8 persen pasien yang diduga tidak berpenyakit jantung justru benar-benar menderita penyakit jantung.

Hasil studi Goldman menyebutkan bahwa hanya ada empat hal yang harus diperhatikan dalam menangani pasien yang menderita nyeri pada dada. Yaitu ECG, nyeri disertai kejang, cairan di dalam paru-paru dan tekanan darah systolic dibawah 100. Faktor-fakor eksternal seperti kebiasaan merokok*), minum kopi, usia senja dan sebagainya dianggap sebagai faktor yang dapat menyebabkan bias dalam mengambil keputusan.

Tahun 2001, hasil studi Goldman diaplikasikan di dunia kedokteran dengan hasil yang sangat memuaskan. Pihak yang mengaplikasi hasil studi ini adalah rumah sakit yang menginspirasi film serial kesukaanku, ER, yaitu Cook County Hospital.

Jika melihat pembahasan tiga kisah di awal artikel dan algoritma hasil studi Goldman, dapat disimpulkan bahwa dampak sistemik sebenarnya terlihat dari obyek itu sendiri, bukan dari faktor-faktor eksternal. Jadi kalo ada pernyataan bahwa Bank Century adalah bank berdampak sistemik karena ada faktor eksternal krisis di Amerika sono, maka pernyataan ini adalah bentuk kekhawatiran yang tidak didasarkan pada penelitian empiris.

Dampak sistemik berpotensi chaos bukanlah hal yang tidak dapat dipelajari. Chaos memiliki struktur, tindakan spontan juga memiliki struktur. Justifikasi bahwa kekacauan tidak dapat diramalkan adalah sebuah langkah mundur bagi ilmu pengetahuan.

Mengambil keputusan dalam situasi krisis dikenal dengan nama 'snap judgement'. Leluhur orang jawa sudah jauh-jauh hari mengenal pengambilan keputusan seperti ini, dan dikenal dengan nama 'jalma limpad seprapat tammat'. Tinggal bagaimana kita mengkomparasi antara 'snap judgement' dengan 'jalma limpad seprapat tammat' agar kita tidak menelan ilmu barat mentah-mentah. Sebab menelan ilmu barat mentah-mentah akan mencabut identitas kita sendiri!

*) siap-siap bagi penggiat kampanye anti rokok, klo ada perusahaan rokok yang melakukan kampanye diam-diam dengan memanfaatkan artikel ini ... hihihi ...

oooOOOOooo

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Pelajaran Struktur Dampak Sistemik: Polisi, Pemadam Kebakaran, .... (12/01/10)
- Studi Kasus Bank Century: Misteri Salah Kaprah Perencanaan ........ (13/01/10)
- Studi Kasus Century: Contoh Kegagalan Penempatan ........... (19/01/10)
-
Studi Kasus Bank Century: Pelajaran Moral sebuah Kebijakan (26/01/10)


Berapa banyak yang berminat belajar dampak sistemik?
hit counter
hit counter

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini