25 Januari 2010

FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?

Sektor informal adalah sektor yang paling fleksibel dalam menghadapi berbagai ancaman krisis. Dengan mudah sektor ini mengalihkan usaha demi beradaptasi dengan perubahan sehingga sektor ini tetap hidup.

Sektor informal ini berjumlah puluhan juta jiwa. Mereka menanam sayuran dengan memanfaatkan lahan kosong di sudut-sudut pemukiman untuk mengekploitasi Sumber Daya Alam tanpa polusi. Mereka mengelola sampah residu aktivitas kita yang untuk menjadi uang.

Jika hanya mengamati satu orang pekerja informal, jumlah uang yang mereka dapatkan tidaklah seberapa. Tapi, jutaan pekerja informal dapat mengumpulkan milyaran rupiah. Angka milyaran inilah yang mengalir ke produk rokok, mie instant, sabun, shampo, bensin, retribusi parkir, PPN, dan sebagainya. Sadarkah kita bahwa angka milayaran ini turut menghidupi sektor induistri manufaktur, pendapatan daerah hingga pendapatan nasional?

Jika dalam satu hari ada sepuluh juta pekerja informal yang membeli rokok senilai lima ribu rupiah, maka pemerintah pada hari itu mendapatkan pendapatan dari cukai rokok sebesar dua puluh milyar rupiah. Bukan jumlah yang sedikit bukan?

Pada krisis tahun 1998, banyak yang memperhitungkan bahwa NKRI akan pecah. Namun, kemampuan survival kaum marginallah yang turut membuat roda pemerintahan tetap berjalan sehingga terjaga keutuhan NKRI. Merekalah yang turut memberikan pendapatan bagi negara sehingga dapat membeli peluru untuk ditembakkan kepada para mahasiswa.

Sayangnya, jasa kaum marginal ini tidak pernah diakui. Pemerintah hanya mengakui bahwa penyelamat krisis 1998 adalah UKM, sektor informal dari kaum marginal diabaikan sama sekali. Lebih menyakitkan lagi, peranan para orang kaya yang sebelumnya mengekploitasi kaum marjinal ini, tergambar dalam BLBI.

Mudah-mudahan FTA ASEAN-China tidak mempersempit ruang gerak kaum marjinal, mereka tetap bisa memberikan pemasukan anggaran bagi negara. Karena jika kau marginal ini lumpuh, maka dampak sistemik yang sesungguhnya akan benar-benar terjadi.

Masih banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mendukung pelaksanaan FTA dengan mengandalkan kaum marginal ini. Dana BLT yang jumlahnya gedhe dapat dimanfaatkan untuk mengekploitasi potensi kaum marginal ini. Ada banyak kaum marginal yang bersedia meluangkan waktu dua - tiga jam untuk merawat fasiltas umum di perkotaan sebagai syarat menerima BLT. Kaum marginal juga bersedia melakukan perbaikan kecil pada fasilitas infrastruktur. Dan masih banyak lagi pekerjaan-pekerjaan kecil yang dapat diselesaikan dalam rangka menghadapi FTA yang dapat dikerjakan oleh kaum marginal.

Sudah saatnya kaum marginal ditempatkan pada lokasi, kondisi dan situasi yang layak. Bukan asal digusur atau diperlakukan seperti Nenek Minah ataupun Pak Dhe Lanjar, Jamkesmas saja belumlah cukup ...

[kutipan dari buku "PARADOKS ANATOMI DAMPAK SISTEMIK" hehehe .... ]

oooOOOooo

Artikel Seri FTA:
- Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia
- Jangan Terlena!
- Kecerdasan China memanfaatkan SDA dan Potensi Pasar ASEAN.
- Penetrasi Itu sudah Dilancarkan
- Indikasi Chinese Marketing Intelligence dan Kelalaian Kita.
- FTA ASEAN China: Menggantungkan Kemampuan Survival Kaum Marginal?
- FTA ASEAN-China: Mencari Solusi dalam Kondisi Tanpa Titik Balik, Sebuah Pendekatan Filosofis.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini