03 Desember 2009

Perjalanan Penanganan Krisis Global haruslah Terintegrasi

Kenapa setiap negara terkena imbas krisis global pada level yang berbeda-beda? Kenapa pula Indonesia sering masuk nominasi sebagai negara yang terkena dampak paling parah? Krisis tahun 2008 ini sepertinya bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk menyusun strategy dalam menghadapi krisis global.

Krisis ditandai dengan melemahnya perekonomian dunia. Krisis 2008 ini dimulai dengan melemahnya bisnis sektor property di Amerika. Kemudian menjalar ke nilai tukar dolar yang kemudian menjadi jembatan untuk mengguncang sektor-sektor lain berbagai penjuru.

Pada saat awal krisis mungguncang di awal tahun 2008, investasi di Indonesia sedang "horny". Hal ini dapat dapat dilihat dari penyaluran kredit sektor investasi dan Kredit Modal Kerja yang terus meningkat, dan mencapai klimaksnya pada Oktober 2008.

Kenapa pada awal tahun banyak investasi padahal dunia terancam resesi? Kenapa begitu besar kredit investasi dan modal kerja di tanamkan tapi kinerja ekspor melorot di akhir tahun?Apakah karena China mulai mencapai titik kulminasi dalam merebut konsumennya di Amerika dan mulai merambah Indonesia sehingga serbuan produk murah China semakin menjadi? Sehingga bertumbuhan investasi usaha-usaha berbasis produk China?

Jika melihat usaha pemerintah membagikan "dana shopping" melalui program BLT yang mencapai 14 trilyun, tentulah masyarakat indonesia menjadi market yang seksi untuk produk low end. Tak heran jika kredit investasi dan modal usaha meningkat demi membuka lahan bisnis baru yaitu bisnis gaya hidup kelas bawah. Jadi jangan heran kalo ponsel pembatu rumah tangga kita lebih canggih daripada ponsel yang kita bawa! (Istriku pake N8250, sedang pembantu pake ponsel yang bisa muter lagu mp3).

Mungkinkah seksi-nya BLT ini yang merangsang pengusaha untuk mencairkan tabungan, bahkan mengajukan kredit meskipun bunganya tinggi, demi terjun ke bisnis gaya hidup kelas bawah? Sehingga usaha-usaha otoritas moneter dalam mengerem peredaran rupiah mengalami kegagalan sehingga menembus angka 12.000 pada oktober 2008?

Ponsel dengan fitur bahasa Indonesia, menawarkan berbagai bentuk entertainment mulai game hingga layanan sms premium, telah mengajarkan budaya konsumerisme yang akut. Semua dapat diperoleh dengan uang BLT.

Jadi, apakah kehati-hatian otoritas moneter dalam menghadapi krisis global 2008 sudah efektif? Ataulah pemerintah belum bisa menyatu dengan keunikan rakyat Indonesia sehingga terus menerus mengandalkan ilmu-ilmu barat dalam menjalankan roda pemerintahan?

Merunut kembali penanganan otoritas moneter bukanlah mencari kesalahan, tapi menyadari betapa berat tugas otoritas moneter dalam menjaga kestabilan. Dan tugas ini akan makin berat jika kebijakan otoritas moneter bertabrakan dengan kebijakan bidang lain.

Pita Penelusuran Studi Kasus Bank Century:
- Sistem Bantuan Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan? (10/09/2009)
- Ternyata Lebih Parah dari Dugaanku (09/10/09)
- Bom Lebih Besar dapat Tercipta (27/10/09)
- Misteri Dampak Sistemik (27/11/09)
- Misteri Dampak Sistemik terpecahkan? (01/12/09)
- Kebijakan Ekonomi Makro: terjebakkah kita? (02/12/09)
- Teori Ekonomi: Alat ataukah Peraturan? (03/12/09)
- Perjalanan Penganganan Krisis Global haruslah Terintegrasi (03/12/09)
- Sistematika Dampak sistemik (07/12/09)

- Antara Kebijakan dan Pidana (09/12/09)
- Jadikanlah sebagai Kutukan Terakhir Pembangunan Indonesia (12/12/09)
- Kejanggalan yang Nyata Terbukti (13/12/09)

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini