26 Desember 2009

Neoliberalisme dan Ekonomi Kerakayatan

Ngomong-ngomong soal Neoliberalisme, definisi dari Elizabeth Martinez and Arnoldo García adalah definisi paling populer. Mereka mendefinisikan neo-liberalism sebagai seperangkat kebijakan yang menyebabkan orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, yang dilakukan oleh lembaga-lembaga dunia seperti IMF, World Bank (WB), dan sebagainya.

Jika kita tinjau kembali kebijakan IMF dan WB, sepertinya tidak keluar dari prinsip "Perdagangan Bebas" dan "Keunggulan Kompetitif" yang tak lain adalah prinsip liberalisme, tidak ada NEO dalam kebijakannya. Jadi, kenapa muncul opini publik yang menambahkan NEO dalam LIBERALISM?

Sepertinya, mekanisme ekonomi liberal telah melampaui batasan-batasan yang diberikan Adam Smith dalam memberikan doktrin pasar bebas alias liberal. Hal ini disebabkan oleh karena motif transaski pasar liberal tidak seluruhnya berkaitan dengan kebutuhan riil atau motif ekonomi. Adakalanya DEMAND muncul bukan karena pasar benar-benar membutuhkan tapi dimunculkan secara politis, keserakahan moral ataupun hidden agenda lain. Adakalanya pula SUPPLY memiliki hidden agenda yang tidak pernah diperhitungan dalam liberalisme.

Berbagai hidden agenda membuat keseimbangan pasar bebas menjadi kacau. Berbagai transaksi bisnis yang meracuni liberalisme, bersembunyi di bawah pantat hukum dan demokrasi. Sehingga berbagai kecurangan dapat melenggang dengan tenang. Berbagai kecurangan ini membuat hubungan SUPPLY - DEMAND tidak lagi murni sebagaimana diidealkan oleh paham liberalisme. Udah dosa kepada Tuhan, dosa kepada sistem pula!

Tidak cuma hidden agenda, globalisasi juga meruntuhkan idealisme liberal karena globalisasi memberikan lebih banyak pilihan bagi para pelaku ekonomi. Dari pilihan yang bersifat kompetitif hingga pilihan untuk melakukan praktek ekonomi curang, seperti penipuan hingga pembajakan ringan a la copy-paste. Apalagi jika pembajakan konten porno, dosanya kepada Tuhan berlipat ganda!

Runtuhnya idealisme liberal oleh liberalisasi yang tak terkendali inilah yang memunculkan istilah Neo dalam kata Liberalisme. Keruntuhan liberalisme juga membuat definisi Elizabeth Martinez and Arnoldo García mendekai kebenaran, yaitu yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Yang dimaksud kaya disini adalah kaya materi dan kaya kepintaran, sebab kaya materi saja bisa menjadi korban madoff-madoff baru yang akan makin banyak bermunculan seiring makin runtuhnya idealisme liberal.

Globalisasi yang juga menjadi titik keruntuhan liberalisme dapat dilihat dalam kasus serbuan produk China di Amerika, yang menghancurkan ekonomi kerakyatan sehingga menghasilkan krisis.

Serbuan produk China ke Amerika membuat produk asli US harus bersaing ketat made in China. Namun rupanya produk Amerika kalah, sehingga kegiatan produksi Amerika melambat. Bank Sentral Amerika pun memangkas suku bunga secara ekstrem. Hasilnya bukan peningkatan investasi industri, melainkan kredit kepemilikan rumah yang menjadi pangkal krisis subprime mortgage.

Apa yang dibutuhkan oleh industri Amerika untuk bersaing dengan China, bukanlah iming-iming gaya liberal berupa fasilitas kredit murah dari kebijakan moneter. Kredit murah diharapkan dapat mengisi DEMAND untuk membuka usaha baru, tapi kaum pengusaha Amerika sesungguhnya engga cuman butuh duit banyak. Masyarakat industri Amerika membutuhkan inovasi-inovasi baru agar harga produknya dapat bersaing dengan China, membutuhkan infrastruktur yang membuat biaya produksi dapat ditekan, dan ribuan ide agar dapat bertahan ditengah serbuan produk China.

Kini, otoritas moneter tidak lagi boleh angkuh dan sombong dapat menyelesaikan semua persoalan dengan uang. Karena globalisasi tidak melulu berkaitan dengan uang. Uang yang disediakan dengan ringan oleh Bank Sentral Amerika terbukti tidak mempan melawan serbuan China, bukan?

Karakter ekonomi neolib adalah nafsu yang besar untuk memperluas dan mengintensifkan pasar, dengan cara meningkatkan jumlah, frekuensi dan formalisasi transaksi. Nafsu ini dimiliki oleh siapa saja, tak peduli pengusaha besar maupun kecil. Siapapun yang berhasil melaksanakan karakter neolib maka akan menjadi pemenang.

Adapun 'cita-cita' neolib adalah menjadikan setiap aktivitas manusia sebagai transaksi bisnis. Sehingga neolib dapat dikatakan sebagai filosofi dasar yang terbentuk dengan sendirinya dari setiap pelaku pasar untuk mendapatkan kekayaan yang tak terhingga alias tak akan ada kata 'cukup'.

Untuk menyeimbangkan hal ini, maka memecah kekuatan ekonomi dalam unit-unit kecil akan menjadi senjata ampuh dalam menghadapi arus neo-liberal. Banyaknya unit kecil akan memunculkan semakin banyak jurus yang dimainkan untuk melawan arus kegagalan neoliberalisme. Mungkin pemecahan ini yang kita kenal sebagai ekonomi kerakyatan.

Terlebih lagi, mungkin kita pun membutuhkan cara pembelajaran yang benar-benar memaksimalkan potensi manusia, agar kita bisa benar-benar belajar dari alam.

Sebenernya udah lama pengen bikin tulisan ini, tapi kuatir kalau-kalau aku ini disangka anak buah Prabowo dari Partai Gerindra. Tapi melihat penyaluran kredit MKM yang pertumbuhannya tidak seberapa, jadinya perlu juga tulisan ini diluncurkan.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini