18 Desember 2009

Neoliberal: Bukan konspirasi tapi arus perubahan yang harus kita hadapi bersama.



Bapak ekonomi dunia, Ibnu Khaldun, telah meramalkan bahwa sistem perekonomian akan mencapai kondisi seperti apa yang disebut sebagai neoliberalisme. Sesuai dengan pendapat Ibnu Khaldun, kondisi pada neoliberalisme ini adalah siklus puncak pertumbuhan ekonomi, bukan sebuah upaya konspirasi.

Perkembangan teknologi mungkin akan mengubah perilaku kita, tapi manusia tetap saja merasa lapar. Sifat-sifat dasar manusia inilah yang membuat perekonomian menjadi sebuah system yang tidak sepenuhnya acak dan dapat dipelajari bagaimana system ini bergeser dari satu siklus ke siklus berikutnya dengan level yang berbeda-beda.

Puncak pertumbuhan ekonomi yang digambarkan oleh Ibnu Khaldun sejalan dengan “cita-cita” neoliberalisme, yaitu menjadikan dunia dimana setiap tindakan manusia adalah sebuah transaksi pasar.

Jadi jangan heran kalo ekonomi yang udah tumbuh menjadi neolib sekarang ini menginginkan agar setiap orang bisa bertransaksi hingga larut malam. Jadi, makin banyak toko yang buka 24 jam.

Nafsu neolib juga menginginkan jumlah duit yang besar dalam setiap transaksi. Adanya kartu kredit membuat belanja tidak lagi seperti ibu-ibu yang menenteng tas jerami ke pasar dengan dompet di ketiak. Sebab dengan kartu kredit, kita bisa membeli berton-ton beras yang tak mungin bisa dimasukkan ke dalam tas belanja ibu.

Neolib menciptakan berbagai bentuk transaksi baru tanpa harus ada barang, yang penting ada uang. Contohnya produk deposito, surat utang dan entah apa lagi jenisnya, aku engga tahu soalnya aku bukan orang kaya yang layak ditawari produk gituan. Produk-produk kayak gini nongol karena neolib menginginkan jumlah transaksi yang makin banyak dan makin variatif.

Makin banyaknya jenis transaksi, bertambah pula biaya jasa yang harus dibayarkan. Hal ini dapat membuat harga barang-barang yang diperdagangkan kadang tidak realistis. Persis seperti kasus perdagangan property di Amerika yang akhirnya kolaps di awal millennium ini.

Huaaa…….. ternyata jadi panjang sekaleee, padahal baru ngomongin ujungnya, belum ngomongin aspek social dan filosofis yang bikin neoliberalisme berbeda dengan liberalisme ….. disambung lagi kapan-kapan ah ….. klo ada mood, hehehe….

video

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini