29 Desember 2009

Mimpi Menghancurkan PLN

"When I examine myself and my methods of thought, I come to the conclusion that the gift of fantasy has meant more to me than my talent for absorbing positive knowledge."
- Albert Einstein -

Padam lagi, lagi-lagi padam. Entah udah berapa kali lisrik padam dikala aku bekerja dengan komputer. Tiap kali listrik padam, kegeraman makin membesar. Apakah PLN tidak membuat prediksi kebutuhan listrik di tahun 2009 dan 2010 sehingga sekarang punya alasan besar yaitu "kekurangan pasokan daya listrik?"

Rasanya tidak adil kalo cuman menyalahkan PLN, karena PLN mungkin punya rencana membangun pembangkit-pembangkit baru. Tapi ada pihak lain yang tidak menyetujui rencana pembangunan tersebut. Dan pihak yang dimaksud adalah kambing yang sangat manis namun berwarna hitam, yaitu ... (mohon dibaca seperti gaya Rhoma Irama mengatakan "terlalu") ... pemerintah. ( Benar juga kata orang-orang tua bahwa di era demokrasi, menjadi pemimpin harus siap menjadi kambing hitam yang paling congek! )

Dari pada menunggu hingga listrik kembali menyala yang bikin darah tinggi, aku putuskan untuk naik ke ranjang. Tapi, dasar mata belum mengantuk, pikiran ini menerawang ke mana-mana.

Aku teringat saat aku Kerja Praktek di unit pembangkitan listrik PLN di Tambak Lorok, Semarang. Waktu itu, turbin gas sering mengalami kerusakan yang tidak masuk akal pada pipa burner. Setelah selidik sana-sini, akhirnya aku punya hipothesis bahwa kerusakan diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar solar impor dari Timur Tengah yang mengandung Vanadium. Vanadium ini memicu terjadinya korosi pada suhu tinggi sehingga menimbulkan proses kerusahan yang hampir tidak masuk akal. Kini, biarpun laporan kerja praktek itu mungkin hanya teronggok di Jurusan Mesin Universitas Diponegoro, tapi aku bahagia karena, aku dengar-dengar, unit pembangkitan itu kini sudah mengganti bahan bakarnya dengan bahan bakar gas.

Aku juga teringat dengan Mr. Houser yang senang dengan berbagai konsep pembangkit listrik tenaga gelombang. Juga dengan Wilf Oulette, insinyur dari Edmonton, Kanada, yang aku kenal sewaktu aku bikin skripsi tentang pembangkit listrik. Doi mengelola pembangkit listrik bertenaga kayu bakar ... aku pun tertidur setelah lelah pikiran menerawang kemana-mana ...

Aku bermimpi mendapat bantuan bertrilyun-trilyun rupiah. Bantuan itu aku pakai buat membeli tanah berhektar-hektar dan kujadikan hutan dengan tanaman produktif. Tepat di tengah hutan, aku bikin Tempat Pembuangan Sampah Akhir agar baunya engga menjangkau pemukiman.

Tak jauh dari tempat pembuangan sampah, aku membangun oven sebesar hanggar pesawat untuk mengeringkan sampah dan sebuah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas hasil pembakaran sampah. Sampah yang udah kering dijadikan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Udara panas sisa pembakaran dikondensasikan kemudian dialirkan ke dalam oven untuk mengeringkan sampah. Abu sisa pembakaran masih bisa dimanfaatkan untuk pengurukan, minimal buat abu gosok. Hutan disekelilingnya akan menjaga kadar Karbon Dioksida hasil pembakaran. Sehingga siklus pembangkit listrik dapat efisien dan terjamin sustainabilitasnya.

Aku engga perlu mengeluarkan uang untuk membeli BBM, justru aku mendapat uang dari para pembuang sampah. Bahkan aku bisa memberikan 'karir' bagi para pemulung sampah atau siapapun yang engga bisa sekolah, untuk memilah-milah sampah. Sehingga, kemungkinan besar aku bisa memproduksi energi listrik dengan harga jual yang jauh lebih rendah dari pada PLN. Dengan euphoria noeliberalisme yang makin kuat, tentulah masyarakat industri dan rumah tangga akan sangat sulit menolak tawaran energi murah ini. Dukungan dari masyarakat sekitar akan membuat aku bisa memiliki jaringan listrik sendiri, menyaingi PLN ...

Gubrak! Aku pun terjatuh dari ranjang ... hilang sudah mimpi indahku, listrik PLN pun belum juga menyala ... hicks!

Ya sudah, bobok lagi aja, sapa tahu mimpi lebih heboh, engga kayak Petronas yang cuma belajar dari Pertamina trus bisa melejit melebihi 'gurunya', tapi belajar menghancurkan Pertamina ... hahaha ... Gubrak!

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini