02 Desember 2009

Kebijakan Ekonomi Makro : Terjebakkah Kita?

Orientasi pada parameter ekonomi makro bukanlah kebijakan salah, hanya saja kalau orientasi berkembang menjadi obsesi, maka akan banyak yang harus dikorbankan.

Sampai dengan 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai melampaui Brasil (yang memang relatif rendah selama bertahun-tahun) dan Rusia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di antara Rusia dan India (dan China).

Kehebatan Indonesia dalam menciptakan pertumbuhan emang bikin bangga bagi sebagian orang. Tapi, dimata seorang analis non-linier, angka pertumbuhan indonesia ini adalah sebuah ANOMALI sehingga perlu dipelajari lebih dalam.

Ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang dengan konsumsi rumah tangga. Berbagai program konsumtif diluncurkan, mulai dari yang murni untuk kegiatan konsumtif seperti BLT hingga program investasi kecil PNPM. Jadi tak heran jika tingkat konsumtif masyarakat Indonesia membuat angka pertumbuhan tetep tinggi di tengah lesunya perekonomian dunia.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi dunia menurunkan tingkat ekspor sehingga cadangan devisa berupa mata uang asing makin menipis. Padahal daya konsumtif masyarakat tetap tinggi dan membutuhkan banyak dolar untuk memenuhi permintaan impor.

Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia terus menerus meningkatkan suku bunga pada periode Mei-Oktober 2008, yang justru mempersulit investasi. Bank-bank kecil makin sulit menyalurkan kreditnya. Tak pelak lagi, banyak bank-bak kecil yang memiliki CAR kritis, termasuk Bank Century.

Jadi tak heran jika 28 Oktober 2009 nilai tukar dolar mencapai Rp. 12.000,-. Namun, krisis global yang dituding dan menjadi kambing hitam pelemahan. Apakah krisis global tak terelakkan, ataukah kebijakan pemerintah, yang justru membuat rupiah terpuruk dan perbankan terancam runtuh?


oooOOOOooo

1 komentar:

dimdroid mengatakan...

terima kasih infonya, salam kenal dari saya :)

Ada kesalahan di dalam gadget ini