30 Desember 2009

Akar Permasalahan Bangsa: Logika Proses vs Logika Hukum

"The intuitive mind is a sacred gift and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift."
- Albert Einstein -
Dalam sebuah acara di TV One, seorang staf ahli hukum menyatakan bahwa penjelasan dalam buku Membongkar Gurita Cikeas melompat-lompat. Sedang para Dosen dalam berita di Detik.com menyatakan buku tersebut secara ilmiah adalah benar adanya. Staf hukum memandang dengan logika hukum, sedang para dosen memandang dengan logika proses. Perbedaan penilaian inilah gambaran akar permasalahan bangsa.

Penilaian logika hukum menjustifikasi kebenaran bukti tiap-tiap fenomena, sehingga ada istilah 'bukti kuat' dan 'bukti lemah'. Sedang penilaian logika proses akan menjadikan satu fenomena sebagai pijakan untuk fenomena berikutnya, sehingga ada istilah "efisiensi proses" dan "efektifitas proses".

Masing-masing logika memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dari logika proses dapat dilihat dari fenomena gaya gravitasi bumi. Newton dapat menghitung proses percepatan jatuhnya benda-benda ke bawah, tapi ia tidak bisa membuktikan dengan logika hukum bahwa bumi bisa menghasilkan gaya tarik gravitasi. Newton justru terang-terangan mengatakan bahwa gaya tarik bumi tidak perlu dibuktikan.

Orang-orang fisika yang tentunya memiliki logika proses, tidak mempermasalahkan dasar hukum gaya gravitasi. Cukup dengan fenomena yang terukur, orang-orang fisika berhasil memanfaatkan teori Newton untuk menciptakan berbagai kemajuan teknologi.

Sekitar seratus lima puluh tahun setelah Newton memformulasikan fenomena gravitasi, munculah Einstein yang mencoba memformulasikan dasar hukum gaya gravitasi dengan teori space-time gravity. Seratus tahun kemudian, barulah dilakukan berbagai percobaan untuk mencari dasar hukum gaya gravitasi.

Mengapa kita memerlukan dasar hukum gaya gravitasi? Karena selama ini fisikawan hanya bisa memanfaatkan fenomena gaya gravitasi dan tidak bisa merekayasa gaya gravitasi. Jika kita memiliki dasar hukum gaya gravitasi, kemungkinan besar teknologi teleport dapat terwujud.

Ironisnya, roket dan satelit yang dipakai untuk mencari dasar hukum gaya gravitasi dirancang berdasarkan teori Newton yang tidak berdasar hukum. Andai saja kita menunggu dasar hukum teori gaya gravitasi Newton, kita tidak akan pernah bisa menemukan dasar hukum gaya gravitasi itu sendiri.

Kita harus seimbang dalam menempatkan logika hukum dan logika proses pada tempatnya, bukan mengunggulkan salah satunya.

Andai saja kita menunggu dasar hukum bagi Presiden SBY dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, akankah proses pembangunan dapat segera berjalan?

Perlu disadari bahwa lembaga negara membutuhkan Badan Intelejen yang bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk menerobos batasan-batasan logika hukum maupun logika proses dalam sebuah keseimbangan, demi tercapainya tujuan negara.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini