03 November 2009

Studi Kasus KPK: untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia

Perkembangan kasus KPK vs Polisi semakin membuka mata bangsa Indonesia akan lemahnya sistem pembangunan. Mungkin kasus inilah yang akan mejadi pijakan bagi bangsa untuk merumuskan system pembangunan yang diimpikan oleh the founding fathers kita.

Kasus yang membungkus intrik di balik pembangunan system komunikasi terpadu, telah membuka mata kita akan kenyataan yang tak terelakkan. Bahwasannya Amerika yang tengah kesulitan menjual produknya karena kalah bersaing dengan China, mulai menggandeng pemerintah, terlebih pemerintahan yang dijejali mafia lulusan Amerika. Sehingga Amerika bisa menjual produknya yang dibungkus dalam paket pinjaman lunak.

Akan sangat berat bagi kita untuk menolak tipuan gaya Amerika ini, karena Amerika tengah membutuhkan banyak dana untuk meloloskan diri dari resesi. Kebangkitan ekonomi Amerika bisa meningkatkan nilai ekspor kita, bukan? Namun perlu dicatat bahwa para analis negara kreditor sudah mulai lemah. Bahkan Sri Mulyani yang dicap sebagai antek Amerika pun menyatakan kalau prediksi IMF banyak yang ngawur.

Dalam posisi ini, yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkan pinjaman Amerika untuk melakukan investasi yang sesuai sehingga mendongkrak kesejahteraan secara riil. Yaitu kesejahteraan yang dapat dilihat di setiap sudut negeri, bukan dari indikator makro ekonomi.

Hatta Rajasa menyatakan bahwa dibutuhkan Rp. 2.000 trilyun untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 7%. Dan cara-cara pemerintah yang telah kita ketahui dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah dengan menaikkan gaji pegawai. Kenaikan gaji akan mendorong konsumsi rumah tangga yang akan terbaca sebagai pertumbuhan ekonomi.

Apakah pertumbuhan ekonomi secara konsumtif adalah jenis pertumbuhan yang kita harapkan? Aku rasa tidak. Kita masih tertinggal, kita membutuhkan banyak kegiatan investasi untuk mengejar ketertinggalan. Konsumsi rumah tangga tidak bisa dipastikan dapat mengejar ketertinggalan bukan?

Kita butuh banyak investasi dan kita butuh pinjaman. Diatas kebutuhan ini, ada kebutuhan yang lebih besar, yaitu kebutuhan untuk bersikap secara bijak.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini