29 November 2009

Dunia Intelijen: Musim Berganti

Dulu, misi intelijen sukses karena hanya intelejen yang punya akses internet sehingga menang karena menguasai dan mengelola informasi. Kini semua orang bisa akses internet sehingga kemenangan intelejen ditentukan seberapa besar kemampuan intelijen melakukan misi-misi yang "suci".

Kegagalan berbagai operasi intelejen akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Internet. Kegagalan intelejen Amerika dalam membentuk opini adanya senjata pemusnah massal di Irak adalah dampak dari keterbukaan informasi. Para agen amerika gagal memasang peralatan senjata kimia di pabrik susu Irak karena pabrik sudah lebih dulu dikunjungi wartawan. Sehingga bukti senjata pemusnah massal tidak pernah ada.

Informasi tak ubahnya seperti virus. Di awal masa kuliah tahun 1998, aku pernah bikin web tentang psycho-virus yang menerangkan bagaimana informasi yang disebar secara cepat dan luas akan lebih mudah menemukan "inang", kemudian berkembang, bermetamorfosa, ber-evolusi dan akhirnya menjadi "mahluk". Web ini menghilang seiring dengan habisnya masa free trial.

Di Indonesia, ada kasus Ibu Prita dengan RS Omni Internasional. Inilah salah satu bentuk psycho-virus yang dapat membuat jengah management RS Omni. Kasus Ibu Prita ini dapat digambarkan sebagai bentuk misi counter intelejen, hanya saja Ibu Prita adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak punya kepentingan lain selain keluarganya, sehingga kecil kemungkinan kalu beliau akan memanfaatkan situasi ini. Kini, manajemen RS Omni harus lebih berhati-hati karena tuntutan terhadap Ibu Prita bisa menjadikan Ibu Prita sebagai icon keruntuhan RS Omni sendiri.

Setiap individu yang melek internet berpeluang untuk melaksanakan misi counter intelijen untuk mendisorientasi situasi namun belum tentu bisa mencapai tujuan tertentu. Karena misi-misi untuk mencapai tujuan tertentu masih tetap membutuhkan dukungan dari lembaga intelejen. Tapi pertanyaannya, lembaga intelejen seperti apa yang diperlukan? Toh lembaga-lembaga intelijen sekelas Amerika sendiri gagal dengan misi Senjata Pemusnah Massal Irak.

Para pakar intelejen yang bisa menjawab pertanyaan itu. Saya sebagai analis system non-linear tidak punya kapasitas yang cukup untuk menyusun jawabannya.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini