13 November 2009

Benang Merah Jaman Edan.

Kesadaran akan pentingnya kedudukan dan kewajiban masyarakat membuat para leluhur dapat meramalkan akan datangnya Jaman Edan di Bumi Nusantara. Kini, tak sedikit yang percaya bahwa Jaman Edan itu sudah terjadi.

Dasar ajaran asli tanah Jawa adalah bahwa seluruh umat manusia pada dasarnya sama tapi dibedakan oleh kedudukan dan kewajibannya. Kedudukan dan kewajiban menemukan bentuknya ketika pengaruh India memperkenalkan system kasta. Sedangkan ajaran bahwa umat manusia pada dasarnya sama menemukan bentuknya ketika Islam memasuki Pulau Jawa.

Kemungkinan, salah satu penyebar Islam, Sunan Kalijaga, menyadari akan adanya pergeseran dinamika social yang menyebabkan timbulnya Jaman Edan. Sehingga beliau menyisipkan ajaran asli Jawa melalui berbagai bentuk kesenian, contohnya kesenian wayang yang akan dijelaskan setelah paragraf berikut.

Namun sayangnya, imperialisme Eropa keburu datang ke tanah Jawa sebelum filosofi Jawa-Islam menemukan bentuknya. Ajaran bagi manusia untuk menyadari kedudukan dan kewajibannya digeser oleh system ekonomi kapitalis yang diperkenalkan oleh imperialis.

Perlu dicatat bahwa kedudukan dalam system kasta di Jawa bukanlah menunjukkan tingkatan derajad seseorang (ingat, setiap manusia pada dasarnya sama). Hanya membedakan perilakunya di dunia. Hal ini dapat dilihat dari tokoh pewayangan Arjuna dari kasta ksatriya yang selalu tunduk dan hormat kepada Semar dari kasta terendah yaitu pelayan. Bahkan anak-anak Semar, Petruk, Gareng dan Bagong sering berbicara kasar kepada Arjuna. Hal ini menujukkan bahwa hubungan kasta di Jawa bukanlah pembedaan derajad manusia, melainkan hanya membedakan perilaku atau tindakannya.

(perlu dicatat, tokoh semar tidak ada dalam epos wayang India, sehingga hubungan Arjuna dan Semar adalah gambaran asli hubungan dalam ajaran asli Jawa, dan merupakan pesan yang disisipkan oleh Sunan Kalijaga).

Kedudukan dan kewajiban seorang ksatria adalah menciptakan ketentraman dan kesejahteraan, namun kini banyak kesatriya pamong praja (pegawai pemerintah) telah lebur bersama kasta pedagang dan menciptakan money politic, lebur ke bersama kasta pelayan untuk melayani para cukong. Tak heran jika pembangunan Indonesia carut marut dan tumpang tindih karena banyak ksatriya pamong praja yang tidak menyadari akan kedudukan dan kewajibannya.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini