29 November 2009

Ancaman Suksesi terhadap SBY

Teriakan "Lawan SBY" sudah menyebar. Satu demi satu elemen perlawanan pun mulai terbentuk. Akankah sampai pada pembentukan elemen perlawanan yang lengkap seperti di tahun 1998?

Salah satu elemen perlawanan adalah adanya Tokoh Tandingan. Dalam kasus SBY ini, tokoh tandingan yang kemungkinan muncul tak lain adalah mantan wapres Jusuf Kalla. Keberhasilan Kalla semasa menjabat Wapres mulai menguat. Kunjungan staf istana ke Kalla juga memperkuat posisi mantan Wapres ini.

Namun perlu disadari, bahwa tokoh perlawanan belum tentu akan menjadi tokoh pengganti. Ingat, di tahun 1998 ada banyak tokoh reformis, namun tidak sedikit yang tersingkir setelah Soeharto turun tahta.

Massa adalah salah satu elemen penting dalam suksesi. Namun adanya massa pendukung pemerintah yang juga turun ke jalan membuat elemen ini terasa pincang, meskipun ada bukti dan kecurigaan bahwa massa pendukung tersebur adalah masa bayaran.

Massa bayaran menunjukkan bahwa esensi gerakan massa perlawanan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, baru pada lapisan masyarakat dalam level tertentu.

Setidaknya, masih perlu dua hal lagi untuk menyempurnakan gerakan massa. Pertama adalah 'sentuhan' agar massa kelas bawah menolak demo bayaran. Dan Idul Adha kali ini membuka kesempatan lebar untuk pembentukan elemen ini, namun hari ketiga Idul Adha, belum muncul adanya pembentukan elemen tersebut.

Elemen kedua adalah melemparkan isu negatif tentang SBY melalui "Jalur unik yang tak terbantahkan". Ada banyak kesempatan untuk memunculkan "Jalur" ini, Tapi toh tak kunjung muncul.

Dengan mempertimbangkan kemunculan kedua elemen terakhir, dapat ditarik dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah bahwa tidak ada pihak yang berencana secara sistemartis menjatuhkan SBY, semua poeristiwa adalah spontan. Kemungkinan kedua, Pihak yang ingin menjatuhkan SBY tidak menguasai misi intelejen di jaman internet. Namun kemunginan kedua ini sangat kecil.

Jika "lawan sby" adalah bentuk spontanitas, maka segala bentuk rekayasa untuk melawan spontanitas ini memiliki peluang yang sangat kecil. Ingat rekayasa perebutan markas PDI pada 27 Juli 1996? Justru rekayasa inilah yang menjadi indikasi awal lemahnya Soeharto.

Spontanitas hampir mustahil untuk dilawan dengan rekayasa. Hanya satu jalan yang efektif melawan spontanitas, yaitu kejujuran, termasuk kejujuran dalam tanda petik.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini