31 Oktober 2009

Resesi Awal Millenium: Kuburan Negara-negara G8

Sudah bukan rahasia lagi kalo negara-negara maju memberikan pinjaman kepada negara-negara berkembang hingga akhirnya negara-negara berkembang ini terjebak dalam hutang. Namun pasca 90-an, peminjaman ini justru membuat lubang kubur bagi negara-negara G8 sendiri.

Sebelum tahun 90-an, pinjaman dari negara maju digunakan untuk membangun infrastruktur sehingga masih bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan negara berkembang.

Namun, setelah tahun 90-an pinjaman itu dipake buat investasi teknolgi komunikasi. Investasi ini memang membutuhkan berbagai alat elektronik agar warga bisa memanfaatkan hasil investasi ini.

Banyak hal yang ditawarkan dari investasi teknologi komunikasi, dari Maria "Miyabi" Ozawa hingga thesis doktoral dapat tersedia di sini. Tawaran yang menggiurkan ini berhasil dibidik oleh negara-negara berkembang sehingga sukses memanfaatkan teknologi informasi untuk bersaing dengan produsen negara maju. Harga yang murah menjadi kunci utama produk negara berkembang yang sulit disaingi oleh produk negara maju.

Kini, banyak produk negara maju yang beralih ke negara berkembang, terutama China. Harga yang ditawarkan demikian murah sehingga memancing impian sebagian besar warga negara maju untuk memiliki rumah. Impian ini berubah menjadi resesi.

Mungkin analisis dari para pakar pemberi hutang sudah tidak lagi valid, hanya mengandalkan data-data resmi tanpa klarifikasi dengan kondisi riil. Hingga 2009 ini pun negara-negara maju masih terun mengutak-atik angka perbankan, tak jua masuk ke analisis riil. Jadi harap maklum jika sampai 30 Oktober 2009 Amerika masih harus menutup 9 bank-nya dalam sehari.

Para pakar ini seharusnya turun ke lapangan untuk mendapatkan data-data ekonomi yang valid, bukan hanya mengandalkan data-data resmi dari pemerintahan. Jika melihat kondisi riil, maka para pakar ini akan paham bahwa perekonomian dunia hanya bisa disembuhkan dengan teknologi generasi baru.

Jadi, gimana cara mengingatkan para pakar yang sudah alergi masuk ke gang kumuh untuk mencari data, lebih senang mendapatkan data-data resmi yang bisa dibaca di ruang ber-AC?

(ternyata lebih enak ngomong soal ekonomi dunia, bisa blak-blakan tanpa kuatir "diciduk")

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini