24 Oktober 2009

Pembangunan Terintegrasi dan Berkelanjutan: Impian atau Perencanaan

Impian adalah kegiatan subjektif, impian dari orang pintar akan berbentuk seperti sebuah perencanaan, tapi tetap saja merupakan sebuah impian yang jika gagal akan menjadi bencana. Sedang perencanaan adalah kegiatan objektif yang tidak akan menutup mata terhadap kemungkinan kegagalan.

Presiden SBY menginginkan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan kondisi seperti sekarang ini, keinginan presiden hanya dapat dipenuhi dengan semangat “kerja keras sampai mati”.

Usaha pembangunan yang terintegrasi dan berkelajutan pernah dicoba oleh Pemerintah Orba melalui Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Tapi sayangnya GBHN adalah sebuah perencanaan politis, bukan perencanaan teknis yang disusun oleh orang yang bener-bener bekerja. Jadi wajar kalau GBHN berakhir dengan penggulingan di tahun 1998.

Pembangunan yang terintegrasi dan berkelajutan membutuhkan teknologi komunikasi mutakhir untuk bisa memantaui setiap kegiatan pembangunan. Teknologi itu kini sudah dapat dipenuhi, tinggal SDM-nya yang menentukan.

Bisa dibayangkan, setiap menteri harus tahu kegiatan-kegiatan pembangunan di departemennya, termasuk program kegiatan UPT dan Dinas di daerah-daerah. Padahal struktur UPT dan Kantor Dinas berbeda antara satu daerah dengan yang lain akibat kebijakan otonomi.

Pebedaan struktur ini akan menimbulkan perbedaan prosedur, perbedaan prosedur mempersulit target pelaksanaan. Singkatnya, menyulitkan pemerintah pusat dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan pembangunan.

Perbedaan struktur bisa diatasi dengan kebijakan Kepala Pemerintah Daerah untuk membabat habis prosedur yang menghambat. Tapi akan menjadi sulit lagi jika Visi dan Misi pemerintah daerah tidak sejalan dengan target-target yang telah ditetapkan oleh para menteri.

Belum lagi proses pembangunan yang selalu meminta persetujuan DPRD akan memperlama pelaksanaan kegiatan pembangunan. Belum termasuk protes dari masyarakat atau LSM yang menilai program pembangunan dengan sudut pandang yang berbeda,

Ini belum mempertimbangkan integrasi kegiatan pembangunan satu departemen dengan departemen yang lain. Belum lagi perbedaan budaya di satu daerah dengan daerah lain yang berbeda-beda akan menimbulkan kesulitan tersendiri.

Seorang pemimpi tidak akan pernah mempertimbangkan dan mencoba mengerti kesulitan-kesulitan kecil di atas. Namun seorang perencana akan memperhitungkannya. Mungkin memang sudah saatnya dibangun sebuah unit OBSERVATORY COMMAND CENTER sebagai media integrasi kegiatan pembangunan yang mirip dengan cara kerja Intelejen.

[next: mekanisme OCC]

Jumlah Pembaca:

freelance writers
freelance writers

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini