16 Oktober 2009

Objektifitas Pangkal Keberhasilan? Pelajaran dari Dunia Intelejen

Setelah bikin artikel tetang doa dan objektifitas, kusadari ternyata objektifitas memiliki peran yang sangat penting. Peranan penting ini dapat dilihat dari pelajaran dunia intelejen.

Bush menyerang Iraq dengan alasan senjata pemusnah massal. Tapi belakangan diketahui ternyata semuanya adalah aksi intelejen untuk menguasai sumber-sumber minyak Iraq. Bisa dikatakan bahwa operasi intelejen ini berhasil mencapai tujuannya. Tapi apakah tujuan operasi intelejen ini membawa dampak positif bagi Amerika?

Tidak, justru licinnya minyak Iraq bikin Amerika tergelincir dalam resesi. Justru yang diuntungkan adalah China. Kini Amerika tengah mengemis-emis ke China.

Sudah bukan rahasia lagi kalo CIA terlibat dalam penggulingan Presiden Soekarno. Dan siapakah yang menikmati hasil penggulingan Soekarno ini? Jepang di tahun 80-an dan Amerika saat itu harus mengemis-emis ke Jepang.

Jika sebuah operasi intelejen hanya ditujukan untuk mencapai tujuan-tujuan sesaat (seperti tujuan menguasai sumber kekayaan alam) maka analisis intelejen ini hanya beorientasi pada tujuan. Dengan demikian, analisis menjadi tidak sepenuhnya objektif sehingga dampak-dampak negatif yang timbul pasca operasi intelejen "tidak terlihat".

Dalam sejarah Indonesia, khususnya Jawa, intelejen di kenal dengan nama "Telik Sandi". Tapi filisofi Telik Sandi berbeda dengan filosofinya Intelejen modern.

Intelejen modern memiliki tujuan-tujuan yang akan membuat analisis mereka terkungkung dalam frame of reference yang sempit. Sedang prajurit Telik Sandi hanya bertugas memantau dan tidak diperkenankan melakukan aksi-aksi seperti layaknya James Bond.

Ketika Sultan Agung Hanyokro Kusumo menyerang Batavia untuk mengusir Belanda, Beliau menempatkan Laskar Mataram untuk mengepung Batavia. Ia meminta pangeran-pangeran dari Sunda untuk mensuplay bahan makanan kepada para prajurit Laskar Mataram. Tapi sayang, tak satupun pangeran Sunda yang mengirimkan bahan makanan.

Sebenarnya Sultan Agung bisa saja mengirimkan bahan makanan dari Jogja. Namun itu tidak dilakukan karena ia mempertimbangkan laporan para prajurit Telik Sandi. Bahwa ia akan kehilangan banyak kekuatan setelah mengusir Belanda, ini akan membuat Kerajaan Mataram menjadi lemah, para pangeran dari Sunda akan dengan mudah menghancurkan Mataram.

Demi kedamaian antara Mataram dengan Sunda, penyerbuan ke Batavia dibatalkan. Sultan Agung memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Raja. Sehingga kerajaan Mataram tetap eksis hingga sekarang.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Padahal, Laskar Mataram sudah menjalankan strategi awal penyerbuan ke Batavia. Salah satunya adalah dengan membendung sungai Ciliwung. Juga membangun Base Camp, namun Base Camp ini umurnya hanya sebulan. Karena cuma sebulan, maka bekas-bekas Base Camp ini dikenal dengan nama "BEKASI", dari kata bahasa Jawa "Bekas Sesasi" yang artinya "Bekas Sebulan".

Sultan Agung HAnyokro Kusumo mengundurkan diri demi persatuan antara Jawa Tengah/DIY dengan Sunda. Hal yang sama juga dilakukan oleh Soekarno yang mengundurkan diri demi persatuan bangsa.

Masih adakan manusia nasionalis Indonesia yang seperti kedua orang di atas?

Ada kesalahan di dalam gadget ini