19 Oktober 2009

Nasib KPK dan Pelajaran dari Biro Pusat Intelejen

Proses pengebirian KPK telah berjalan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena kita tidak belajar dari Biro Pusat Intelejen (BPI).

Dalam dunia intelejen, fakta bukanlah realitas sesungguhnya, realitas adalah persepsi yang dibangun dalam benak kita.

Fakta bahwa Bung Hatta, Syahrir dan beberapa tokoh Angkatan 45 yang bertemu dalam suatu undangan upacara Ngaben di Bali, dipersepsikan sebagai pertemuan untuk merencanakan makar terhadap Presiden Soekarno. Persepsi ini dibangun oleh BPI dan dilaporkan oleh Soebandrio kepada Presiden Soekarno. Ia menyebut Bing Hatta, Syahrir dan beberapa tokoh Angkatan 45 sebagai Komplotran Bali.

BIP berhasil mempersepsikan fakta-fakta sedemikian menghasilkan sebuah kesadaran realitas bagi Soekarno, bahwa kelompok Nasionalis dan kelompok Agamis sudah tidak lagi setia dengan perjuangan Soekarno. Hanya PKI-lah yang tetap setia pada perjuangan Soekarno.

Realitas dalam benak Soekarno sedemikian kuat sehingga ketika gelombang penolakan faham komunis membahana di bumi Nusantara, Soekarno tak bergeming mempertahankan Partai Komunis. Sehingga Soekarno tidak lagi bisa menentukan sikap yang tepat dalam menghadapi keadaan

Operasi intelejen BPI untuk menanamkan realitas bahwa PKI satu-satunya partai pendukung Soekarno memang berhasil. Tapi sayangnya, operasi intelejen ini tidak mampu menyelamatkan PKI sendiri. Hal ini karena operasi intelejen hanya mendapatkan legitimasi dari Soekarno, bukan loegitimasi dari seluruh rakjat indonesia.

Orientasi operasi intelejen BPI di atas tidak ubahnya seperti operasi intelejen KPK dalam memberangus korupsi dan suap di Indonesia. Permasalahannya terletak pada legitimasi, tidak setiap WNI menyetujui penghapusan korupsi dan suap di Indonesia.

Memang, kasus suap atau korupsi hanya melibatkan beberapa orang. Tapi bila pelaku suap adalah seorang pengusaha yang memiki ribuan karyawan, maka suap itu menjadi sumber penghasilan bagi ribuan orang serta menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu anggota keluarga karyawan. Jadi wajar, kalo ada joke yang menceritakan bahwa Mister Jin yang keluar dari botol dapat memenuhi apapun permintaan kita kecuali menghapus korupsi di Indonesia.

Dengan kondisi demikian, sulit bagi KPK untuk mendapatkan dukungan publik kemudian melahirkan revolusi pemberantasan korupsi. Operasi-operasi intelejen yang berujung pada penangkapan berbagai pejabat telah menghasilkan dendam kesumat. Tak ayal lagi operasi intelejen KPK mendapatkan counter intelegent yang bertujuan melaksankan pengebirian KPK.

Legitimasi KPK dalam memberantas korupsi berada dalam dunia idealisme, alias di awang-awang, tidak bisa membumi. jadi wajar pengebirian KPK tidak cukup kuat untuk memancing demo besar-besaran.

Baik KPK maupun BPI telah meletakkan operasi intelejen dalam posisi yang kurang tepat. Bahkan BIN pun pernah melakukan kesalahan yang sama saat menjalankan operasi intelejen pembunuhan aktivis HAM Munir. Operasi dilaksanakan disaat publik masih memimpikan idealisme HAM. Jadi wajar kalo BIN yang seharusnya menjadi Badan Rahasia Negara diobok-obok, dibongkar dan dipermalukan.

Mungkin memang diperlukan banyak Badan Intelejen untuk menjalankan berbagai misi pembangunan dan pertahanan. Namun diperlukan satu Badan Intelejen yang bertugas menyeimbangkan misi dengan realitas.

Semoga lulusan STIN akan menghasilkan tenaga intelejen yang handal, selamat kepada para wisudawan STIN!

Jumlah Pembaca:
web copy writer
web copy writer

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini