12 Oktober 2009

Dari Mana Datangnya Legenda?: Sains dan Nyai Roro Kidul

"When I examine myself and my methods of thought, I come to the conclusion that the gift of fantasy has meant more to me than my talent for absorbing positive knowledge."
- Albert Einstein -

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini muncul setelah akhir-akhir ini aku banyak cari info seputar gempa, keruntuhan Mataram Kuno dan Nyai Roro Kidul. Legenda Nyai Roro Kidul ini membuatku teringat pengalaman unik saat aku meneliti ombak laut selatan.

Sedianya, aku pengen bikin skripsi tentang pembangkit listrik tenaga ombak. Sebagai langkah awal, aku melakukan observasi ombak di pantai selatan Jogja. Aku lupa nama pantainya, yang jelas di situ dekat sama mercusuar.

Saat itu sekitar pukul 3 sore, tidak ada orang lain selain aku di pantai. Dengan notes, pena dan stopwatch aku mencoba bikin gambaran kasar frekuensi ombak. Tapi sayangnya ombak terlalu acak, sulit buatku mendesain sistem penangkap energinya. Jadinya aku malah melamun memandang ke tengah laut.

Entah apa saja yang dibenakku, tapi aku ingat betul terlintas pertanyaan, "Apakah Nyai Roro Kidul itu ada?"

Sesaat setelah terlintas pertanyaan itu, wajahku seperti diusap dengan kain yang sangat lembut dan beraroma melati. Ingat, tidak ada satu orang pun di sekitarku. Angin bertiup dari laut menuju ke darat, wajahku benar-benar bisa membedakan antara tiupan angin dengan sentuhan kain. Dari mana datangnya sensasi ini?

Mungkin ini adalah jenis pengalaman yang membuat otakku merekam dengan sangat mendalam sehingga aku masih bisa membayangkan kain yang mengusap serta aroma harum melatinya.

Jika usapan kain dan aroma melati ini dari Nyai Roro Kidul yang hendak menunjukkan keberadaanya, kenapa dalam bentuk sentuhan dan bau? Ini bukti yang engga bisa didokumentasikan! Kalo aku bercerita sampe mulut berbuih pun orang akan sulit percaya.

Apakah bukti keberadaan ini emang hanya ditunjukkan ke aku? Tapi mengapa aku? Anyway, aku yakin ada banyak orang yang juga mengalami pengalaman unik sepertiku sehingga legenda Nyai Roro Kidul tetap hidup.

Tiap kali aku ke pantai selatan, aku mencoba mengulang pengalaman itu lagi. Dari puluhan kali mencoba, hanya sekali pengalaman itu berulang. Dari dua pengalaman itu, ada satu benang merah yang dapat ditarik, yaitu bahwa aroma melati hanya tercium pada saat kita sendiri tidak menyadari bahwa kita menunggu jawaban dari Nyai Roro Kidul.

Mungkin mirip dengan jenis kesadaran pada saat ide muncul di benak. Psikolog bilang kalo ide tuh muncul saat kesadaran kita sedang dalam keadaan terbuka. Aku sendiri engga bisa memberikan gambaran jelas tentang kesadaran yang terbuka. Mungkin kita bisa memahaminya lewat Einstein.

Einstein bisa bilang kalo kecepatan cahaya adalah kecepatan absolut. Apakah Einstein naik pesawat berkecepatan cahaya untuk membuktikannya? Tidak. Einstein menggunakan KESADARANnya untuk membuat hipothesis.

Einstein mengolah kesadarannya sedemikian hingga ia menyadari bahwa bintang-bintang di angkasa akan terlihat jauh lebih banyak jika kecepatan cahaya tidak absolut.

Leluhur orang jawa sangat menguasai ilmu olah kesadaran ini. Orang jawa bilang "Olah Bathin". Inilah imu yang bisa bikin kita terbebas dari berbagai premis awal sehingga kita bisa melakukan observasi secara benar-benar objective. Tapi sayang, kita menganggap ilmu ini sebagai bentuk ritual bodoh, sehingga ilmu ini hilang ditelan jaman.

Kekayaan alam bisa di eksploitasi oleh orang asing, kekayaan artefak peninggalan leluhur juga bisa diangkut ke negeri orang. Tapi kemampuan individual yang diwariskan leluhur takkan bisa diambil oleh orang lain, kecuali kita sendiri yang memusnahkannya.

Jumlah Pembaca:
ARTICLE WRITING
ARTICLE WRITING

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini