10 September 2009

Studi Kasus Bank Century: Sistem Bantuan yang Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan?

 Tanpa adanya struktur perencanaan "bagaimana menyelamatkan Bank Century" maka hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pengambil kebijakan bailout tidak memahami situasi saat itu. Sayangnya, sikap pemerintah selalu merasa paling benar dan tidak pernah meminta maaf. "Mereka-mereka yang selalu mengklaim kebenaran akan dikaramkan oleh seruan Tuhan ( Whoever undertakes to set himself up as judge in the field of truth and knowledge is shipwrecked by the laughter of the Gods)" - Albert Einstein-.

Mendengar kata 'sistemik' dalam acara diskusi di televisi tentang Bank Century membuat telinga ini berdiri dan memberikan perhatian. Maklum, sebagai orang yang sedang getol belajar tentang sistem, istilah 'sistemik' benar-benar menjadi sangat seksi di dalam otak ini.

Setelah browsing sana sini, akhirnya ditemukan ada satu kesan yang dapat ditangkap, yaitu bantuan LPS kepada Bank Century didahului oleh analisis yang timpang.

Bantuan pemerintah kepada Bank Century ditujukan agar bank itu kembali sehat, karena dikhawatirkan ketidaksehatan Bank Century berdampak sistemik seperti kata Menkeu. Pemerintah dan Bank Indonesia memandang penyelamatan Bank Century harus dilakukan guna menyelamatkan perekonomian. "Melalui analisa dan fakta dan berbagai informasi dianggap bisa berdampak sistemik, konsekuensinya kita tak bisa menutup bank itu (Bank Century)," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (1/9).

Kutipan Liputan 6 SCTV masih belum layak untuk dijadikan alasan pemberian bantuan. Akan menjadi layak jika Menkeu menambahkan "Management Bank Century telah menyusun strategi untuk mengatasi permasalahannya dan membutuhkan dana sebesar sekian rupiah untuk melaksanakan startegy tersebut. Pemerintah akan membantu pelaksanaan startegy ini dengan cara begini-begitu dan begono"

Nah, klo kutipan Menkeu ditambah seperti paragraf di atas, maka maka bantuan menjadi sangat layak. Bantuan akan benar-benar digunakan untuk mengatasi masalah, bukan sekedar mengembalikan dana deposan.

Memang pada akhirnya Bank Century berhasil membukukan laba, tapi apakah laba signifikan dengan suntikan modal?

Mungkin, disinilah letak ketimpangan pembangunan di negeri kita tercinta. Analisisnya terlalu pendek. Makanya tak heran jika muncul asumsi klo kita bangsa yang bisa membangun tapi tak mampu merawat hasil pembangunan.


oooOOOOooo

Jumlah Pembaca:

2 komentar:

Anonim mengatakan...

not as a simple as you thing..
JIka dilihat dari kacamata lain, kebijakan Pemerintah justru meningkatkan value perusahaan untuk jk panjang, sehingga tidak hanya memperbaiki bank itu sendiri tetapi bisa memberikan keuntungan bagi negara. belum paham??
Begini.. masalah bank century adalah pada pemilik dan manajemen yang dikelola oleh Tantular Family. banyak aset2 yang tidak produktif bahkan bodong. Akibatnya selain tidak produktif juga terancam risiko gagal sebagai bank krn tidak memenuhi gagal untuk membayar kewajiban dalam jangka pendek.
Jadi apa maksud Pemerintah?? Selain dampak sistemik yang dapat ditimbulkan, bisa saja Pemerintah memandang secara bisnis, peluang Century untuk hidup masih besar dengan spesialis bisnis pada bisnis valas. Atas dasar itu, daripada bisnis tsb hilang dan menimbulkan risiko yang lebih besar, maka Pemerintah/LPS saja yang mengambil alih perusahaan tsb.
Kalau cth solusi yang anda tawarkan menandakan anda kurang paham, kalau manajemennya buruk, jadi kalo dikasih dana lagi ya bakal ditilep lagi. Jadi manajemen dan pemilik diganti namun bisnis tetap jalan karena sisi kekeuatan bisnisnya itu sebenarnya masih bisa diselamatkan.
Tks

Alifadian Yuhaniz mengatakan...

Terima kasih atas comment-nya. Mengingat saya bego soal perbankan, saya hanya melihat dari kacamata sistem.
Jadi, saya engga mempermasalahkan apakah Bank Century perlu diselamatkan atau tidak.
Yang saya sesalkan adalah proses untuk mendapatkan dana penyelamatan. Pada awalnya, seakan-akan 630M udah cukup utk penyelamatan Bank Century. dan kenyataannya meleset sedemikian lebar.
Mengapa dana 630M itu diterima begitu saja padahal sudah diketahui kalo dana yang dibutuhkan jauh lebih besar?
Jika pemerintah menerima begitu saja dana 630M tsb, maka pemerintah seharusnya sudah punya Plan B untuk menutupi kekurangannya. Dan Plan B ini diungkap sebelum 6.7 T ini mengalir keluar.
Dengan adanya perencanaan yang jelas maka penggunaan 18 juta dolar untuk Antaboga juga jelas posisinya. Sayangnya, gema perencanaan ini sama sekali tak terdengar, bukan?

Ada kesalahan di dalam gadget ini