04 September 2009

Penyelidikan di atas Bus Trans Jogja: Focus Disorientation

Semenjak menjadi pasien terapi, aku juga menjadi pelanggan Bus Trans Jogja sebagai kendaraan yang membawa aku ke tempat praktek terapi. Berbekal pengalaman beberapa lama menjadi penumpang, aku pun hapal dengan beberapa kebiasaan pelayanan Trans Jogja.

Salah satu pelayanan yang aku hafal adalah bahwa aku tidak pernah menunggu lebih dari lima belas menit di dalam shelter. Tapi pada tanggal 4 September 2009, aku meunggu hingga 19 menit. Kelebihan 4 menit ini engga masalah bagiku, tapi cukup untuk menimbulkan rasa ingin tahu kenapa bus ini datang lebih lambat.

Delay yang cukup panjang membuat bus yang ku tumpangi selalu dijejali penumpang di setiap shelter pemberhentian. Untunglah aku berdiri di bagian depan sehingga engga perlu menggesar-geser badan untuk lalu-lalang penumpang.

Berdiri di bagian depan juga membuat aku bisa mengamati Pak Sopir. Jadwal pemberhentian shelter biasanya di ditempel di atas speedometer sehingga Pak Sopir engga perlu toleh kanan kiri buat memastikan apakah ia terlalu lambat atau terlalu cepat. Tapi, dalam bus yang kutumpangi kali ini, jadwal itu ditempel di bagian samping dekat bahu. Pantes aja bus ini telat, Pak Sopir engga bisa terus menerus memantau jadwal, bisa sakit pinggang dia!

Engga cuma itu, Pak Sopir juga mengenakan kaca mata hitam padahal cuacanya mendung! Nah lo, udah letaknya disamping, makin gelap lagi!

Setidaknya, ada satu pelajaran yang bisa dipetik, bahwa ada kalanya fasiltas tidak menjamin performa kinerja.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini