06 September 2009

Penelitian Mutakhir Gempa di Pulau Jawa dan Penelitian Mutakhir Lainnya :D

Ternyata dunia penelitian dan ilmu pengetahuan tidak bisa lepas dari turbulensi budaya instant. Enggak tanggung-tanggung, institusi berkelas internasional seperti Boeing Corp. pun terjebak dalam pemikiran instant.

Di awal tahun 2000, Boeing menyelenggarakan penelitian untuk menciptakan mesin anti gravitasi. Padahal, untuk dapat melawan gravitasi, maka kita harus tahu bagaimana proses gravitasi bumi menyebabkan benda jatuh. Tapi penjelasan macam ini sama sekali belum ada. Gravitasi masih misteri, tapi Boeing berusaha melawannya. Ini sama saja Boeing ingin bikin nasi tapi dengan cara menanak jerami! Tak heran jika jutaan dolar dana riset Boeing menghasilkan angka nol besar.

Boeing bukan satu-satunya pakar instant. Para ilmuwan yang sedang meneliti hilangnya koloni lebah (Collapse Colony Disorder – CCD) juga melakukan kesalahan yang sama. Mereka langsung meneliti virus dan bakteri yang menyerang lebah. Ada ilmuwan yang mengkaitkan dengan global warming. Ada pula ilmuwan yang langsung meneliti struktur genetik (DNA) lebah. Ketika hasil penelitian mereka terbukti menyebabkan kematian lebah, mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana proses kematian merambah ke satu koloni. Sehingga para ilmuwan mulai bikin kesimpulan yang paling ilmiah yaitu hilangnya koloni lebah disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat komplek, sedemikian komplek sehingga bisa bikin pecah otak ilmuwan kalo diteliti lebih jauh, huakakakakaka……

Pada dasarnya, hilangnya koloni lebah terjadi karena lebah-lebah tidak dapat lagi menemukan sarangnya. Jadi, kenapa engga meneliti navigasi lebah dulu untuk mencari tahu bagaimana mereka bisa tersesat? Apakah faktor biologis atau faktor lingkungan? Nah klo terbukti karena faktor biologis, maka boleh dilanjutkan dgn penelitian virus ataupun DNA. Tapi klo mereka tersesat karena faktor lingkungan maka riset biologis akan sia-sia.

Penjelasan yang berakhir pada pecahnya kepala juga terjadi dalam penjelasan mengenai hubungan gravitasi bulan dengan pasang surut air laut. Anehnya, hitungan matematis jelas-jelas menunjukkan bahwa gravitasi matahari sangat jauh lebih kuat dibanding gravitasi bulan, tapi kenapa justru gravitasi bulan yang bikin pasang air laut? Bukan matahari? Penjelasan resmi menyebutkan kalau gravitasi bulan dan sifat air laut yang tidak padat membuat interaksi yang sangat komplek, alias bikin pecah kepala ilmuwan klo disuruh ngejelasin.

Satu-satunya penghubung antara gravitasi bulan dengan pasang surut air laut adalah karena bulan dan air pasang sama-sama memiliki siklus 12 jam 25 menit. Apakah hanya karena selalu muncul bareng bisa dijadikan alasan? Kayak infotainment aja ….

Klo cuman kemunculan yang bersamaan, aku juga punya penelitian mutakhir tentang gempa di Pulau Jawa. Pada bulan Mei 2006, aku menderita sakit perut dan pinggang yang engga bisa dijelasin sama dokter. Pas waktu itu ada kejadian gempa Jogja 27 Mei 2006. Saat ini, penyakit yang engga jelas juntrungnya ini kambuh bersamaan dengan munculnya gempa Tasikmalaya. Nah lo! Para 'ilmuwan bulan' bisa bikin penelitian mutakhir dan berkesimpulan klo penyakitku memiliki hubungan sangat kompleks dengan gempa di Pulau Jawa!

UPDATE: Jalan Cerita Mimpi

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini