01 September 2009

Kegagalan Indosat Palapa D

Membaca berita yang mencoba menafikan kegagalan Satelite Palapa D adalah hal yang lumrah. Tidak ada satupun operator satelit yang bersedia menyebutkan betapa banyak kekurangan yang dihadapi dengan satelitnya. Jadilah riset tentang kegagalan satelit sulit untuk menghasilkan hasil riset yang memadai.

Jadi wajar pula kalo situs-situs berita di Indonesia tidak memberitakan bahwa Palapa D tertahan di bawah garis orbit yang ditentukan dan kemungkinan kecil dapat diatasi.[
Indonesia's Palapa D satellite was stranded in a lower-than-desired orbit after the failure of the Chang Zheng 3B launch vehicle's third stage. The satellite itself is well, but it seems unlikely it could be salvaged]

Sistem pendorong satelit menggunakan roket, jadi roket ini akan digunakan untuk memposisikan satelit ke orbit yang ditentukan. Nah, klo jarak satelit ke orbit terlalu jauh maka akan banyak bahan bakar yang dihabiskan. Makin tipis sisa bahan bakar, makin sedikit pula usia pakai satelit ini.

Aku sendiri belajar tentang satellite, tapi ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya, yaitu roket pendorong sebuah satellite umumnya diletakkan di bagian belakang. Padahal posisi seperti ini membuat satellite mudah mangalami rolling. Tapi apa hendak dikata, desain standar satellite emang udah demikian.

Mudah-mudahan ntar ada yang mau jadi sponsor buat aku meneliti sistem pendorong alternative buat satelit yang engga pake bahan bakar tapi pake tenaga listrik. Jadi cukup pake energy matahari, engga bakal ada lagi cerita satelit yg jatuh karena kehabisan bahan bakar. Cuman sayangnya, penelitian ini akan membuat 'pelajaran fisika' harus dirombak total.

Angkasa luar memang kejam, ribuan perhitungan dan keputusan dari satu satelit yang tepat dapat digagalkan oleh satu kesalahan teknis, dan satu kesalahan teknis menghasilkan bencana. Sebuah peluncuran satelite yang dikatakan sukses sesungguhnya mengandung anomaly dalam pembacaan telemetri. Jadi tak heran jika SSED (Space Systems Engineering Database) memiliki lebih dari 100.000 data kegagalan dan anomaly. Jadi diperlukan banyak ahli astrofisika, programer, dan insinyur mesin untuk mengontrol satu buah satellite.

Jumlah Pembaca:
Freelance Writers
Freelance Writers

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini