12 September 2009

Doktor versus Orang Religius dari Jawa

Pada akhir tahun 80-an, ada seorang pemuka agama yang bilang kalo aku harus belajar dari negeri China karena kelak China akan menjadi kuat di masa mendatang. Aku engga percaya dengan omongan ini, aku pun menganggap omongan ini hanyalah pepesan kosong. Lagian pemuka agama ini juga engga jelas sekolahnya.

Pada awal tahun 90-an, aku membaca ramalan tentang puncak produksi meinyak bumi di tahun 2006. Kemudian harga BBM akan terus melambung hingga dunia industri tidak lagi berputar. Aku pun percaya dengan ramalan ini karena dibuat oleh seorang Doktor yang sudah barang tentu kenyang makan bangku universitas.

Mungkin, Presiden Bush juga mempercayai ramalan Doktor sehingga ia ambil kebijakan membuang dolar dan nyawa untuk menguasai Irak. Tak heran jika ramalan minyak bumi menimbulkan pemikiran bahwa pasca tahun 2006 negara yang kuat adalah negara yang kaya sumber energi. Tapi sayang Tuhan berkehendak lain, minyak di Irak tidak membuat ekonomi Amerika menguat tapi malah terpleset ke dalam krisis, menyeret pengganti Bush, Obama, mengemis-ngemis ke China.

Tak kusangka, ramalan orang tua religius yang ku anggap remeh ternyata menjadi kenyataan. Ramalan Doktor yang kuyakini benar justru meleset dan membuat kekacauan ekonomi.

Dimana letak perbedaan ramalam Doktor dan ramalan orang religius? Sang Doktor membuat ramalan hanya menggunakan kemampuan analitis otak, sedang orang religius Jawa mengkombinasikan kemampuan analitis, spiritual dan emosional.

Jadi, klo kita mengabaikan kemampuan spiritual dan emosional, sama saja kita men-downgrade kemampuan otak kita menjadi sekelas 'otak' komputer.

Ngomong-ngomong, kita telah meninggalkan berbagai kerusakan lingkungan untuk anak cucu kita. Apakah kita juga akan mendidik anak cucu kita menjadi komputer bukannya menjadi manusia?

Jumlah Pembaca:
freelance writers
freelance writers

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini