17 September 2009

Teknologi dan Selera Pasar

"Masyarakat masih cenderung memilih produk-produk lama. Padahal dengan harga yang sama, masyarakat bisa membeli produk yang berteknologi baru," ujar Presiden Direktur PT Galva Technologies, Oki Widajaja, dalam acara BenQ Indonesia Dealers Gathering di Bali pada 19-21 Juli 2009.
.........
Salah satu contohnya, menurut Oki, adalah masih fanatiknya sebagian besar penduduk Indonesia terhadap layar monitor LCD berukuran 15 inci. Padahal, dengan harga 15 inci di waktu sebelumnya, kini sudah dapat membeli monitor LCD selebar 20 inci. Tapi, mereka tetap memilih yang 15 inci. "Sebenarnya secara finansial mereka mampu untuk membeli produk berteknologi yang lebih baru," tambah Oki.
..........
[Media Indonesia]

"Pak Oki, bukannya saya bodoh, meja komputer saya ukurannya 180 cm, klo saya pasangi monitor 20 inchi, dimana saya mau meletakkan printer?"

Umumnya, kita menganggap hubungan supply & demand adalah sebuah sistem linear. Kalo suplay turun dan demand lebih tinggi maka harga naik, dan seterusnya. Tapi ini hanya berlaku pada sistem yang benar-benar stabil. Kenyataannya, perekonomian saat ini sulit dikatakan sebagai sebuah sistem stabil. Sehingga jika kita fokus pada hukum supply & demand saja, maka kita akan menghadapi kesulitan saat suplay ataupun demand mengalami perubahan secara tiba-tiba akibat politik, bencana alam dan sebagainya.

Jadi, ada baiknya jika kita memperlebar fokus, memandang sistem supply & demand sebagai bagian dari sistem perekonomian yang kompleks dan NON-LINEAR.

Pelebaran fokus ini akan mempertimbangkan "kesesuaian" antara supply & demand. Dengan demikian, kegagalan pemasaran LCD 20" dapat dipandang sebagai titik jenuh demand. Jika kegagalan dipandang sebagai kekurangan pada konsumen penentu demand maka kita akan kesulitan menemukan jalan keluar untuk menghabiskan stock. Namun, jika kita memandang sebagai pergesaran tingkat kejenuhan konsumen, maka kita dapat memilah konsumen dan menemukan celah untuk menyisip diantara kejenuhan.

Prambanan dan Gempa Sesar Opak

Setelah mimpi aneh tentang gempa di Pulau Jawa, kini jadi makin aneh! Soalnya mengarah pada aktivasi Sesar Opak yang menjadi cikal bakal gempa di Jogja.

Melihat betapa sensitif Pulau Jawa terhadap aktivitas di atasnya, membuatku pengen tahu tentang bangunan berat di wilayah Sesar Opak. Ternyata ada bangunan masif di sesar ini, yaitu Candi Prambanan. Mungkinkah Candi Prambanan pemicu 'Maha Pralaya' atau 'Ekarnawa' yang membuat pusat kerajaam Mataram berpindah ke Jawa Timur?

Maha Pralaya dan Ekarnawa ditemukan pada prasasti di Jawa Timur yang menceritakan Raja Erlangga. Maha Pralaya diterjemahkan sebagai keadaan kacau balau sedang Ekarnawa menggambarkan bahwa Pulau Jawa menjadi laut. Kondisi ini dikaitkan dengan letusan merapi tahun 1006 M. Sehingga diperkirakan kepindahan kerajaan ke Jawa Timur karena letusan ini. Namun, banyak pihak yang menyangkal, sebab tahun 1006 M, pusat kerajaan sudah berdiri di Jawa Timur ditandai dengan prasasti berangka tahun 928 M.

Karna Ekarnawa juga berarti lautan susu, ini bisa berasosiasi dengan buih laut yang berwarna putih, bisa jadi Ekarnawa adalah benar-benar menggambarkan air laut yang menggenang di wilayah Yogyakarta karena ada penurunan permukaan tanah di bagian selatan Pulau Jawa! Nah trigger penurunan tanah adalah beban berat di atas sesar opak yang berupa Candi Prambanan.

Tekanan di ujung Sesar Opak membuat tanah di selatan Yogyakarta longsor ke Pantai Selatan, menenggelamkan wilayah selatan Pulau Jawa. Longsoran ini terbawa arus laut dan menjadi gundukan di selatan provinsi Jawa Timur.

Kejadian ini bertepatan dengan persiapan Pasukan Raja Wawa, raja terakhir Mataram Hindu, untuk menahan serangan dari Sriwijaya. Pasukan Raja Mataram Hindu ini dipimpin oleh menantu Raja Wawa yaitu Mpu Sendok.

Sehingga, Mpu Sendok dan pasukannya berhasil lolos dari tenggelamnya kerajaan Mataram Hindu, bahkan menuai kemenangan gemilang atas pasukan Sriwijaya. Akhirnya, karena udah engga punya tempat untuk pulang, Mpu Sindok hijrah ke Jawa Timur.

Sementara itu, Putri Dyah Wawa alias istri Mpu Sendok tenggelam di laut selatan dan berkembang menjadi kepercayaan akan Nyi Roro Kidul.

Dah sekian dulu dongengnya ... kapan-kapan dilanjutin lagi, sekarang bobo yu......k.

15 September 2009

Masih kebawa-bawa gempa

Maksud hati membuka info CPNS di website BMKG, ternyata link-nya ga beres. Jadinya malah hunting informasi seputar gempa di Pulau Jawa. Mungkin mimpiku masih terbawa sampai sekarang, makanya masih sering iseng cari-cari info seputar gempa di Jawa.

Layaknya mahluk awam, pergerakan lempeng Indo-Australia adalah biang kerok semua gempa di Pulau Jawa. Lempeng ini terletak lebih dari 100 km di bawah Pulau Jawa. Tapi ternyata ada banyak gempa yang berasal dari kedalaman kurang dari 50 km. Trus, apa penyebab gempa-gempa dangkal yang kini sering terjadi?

Salah satu keunikan adalah frekuansi gempa sebelum dan sesudah gempa Jogja 27 Mei 2006. Sebelum gempa Jogja, gempa yang ditimbulkan oleh pergerakan lempeng relatif sedikit, namun terjadi peningkatan setelah gempa Jogja. Demikian pula gempa-gempa dangkal yang juga frekuensinya bertambah.

Dari data gempa dengan magnitude lebih dari 5, diketahui tahun 2001, tercatat 4 kali gempa di Pulau Jawa, 2002 tidak ada, 2003 ada 2 kali, 2004 ada 2 kali, 2005 ada 2 kali, 2006 ada berpuluh-puluh kali, 2007 ada 17 kali, 2008 ada 11 kali dan sampai 16 September tercatat 16 kali gempa di tahun 2009.

Dalam mempelajari sebuah sistem, diketahui klo sebuah sistem menuju stabil maka bentuk gangguan akan makin mengecil, atau orang bilang bahwa gempa susulan akan lebih kecil dibanding gempa utama. Nah, klo gempa Jogja 27 Mei 2006 adalah gempa utama dengan magnitude 6.3 maka gempa berikutnya seharusnya lebih kecil. Tapi data yang kuperoleh menunjukkan adanya gempa ber-magnitude 7.7 pada tanggal 17 Juli 2006.

Klo dilihat dari gejala-gejala di atas, bisa disimpulkan bahwa mekanisme gempa di Pulau Jawa tidak dipicu oleh satu sistem saja.

Mungkin pergerakan lempeng Indo-Australia tidak langsung mengguncang permukaan bumi Jawa, melainkan hanya mengubah struktur kekuatan lapisan tanah Pulau Jawa. Perubahan struktur ini disimpan untuk kemudian dikeluarkan dalam bentuk gempa ataupun letusan gunung berapi.

Nah klo pergerakan lempeng menimbulkan perubahan struktur kekuatan, trus apa yang memicu perubahan struktur kekuatan menjadi gempa? Jawaban paling logis adalah 'aktivitas di permukaan Pulau Jawa, baik aktivitas alami maupun aktivitas manusia'.

Aktivitas alam contohnya adalah pasang surut air laut. Di TV pernah ditayangkan semburan gas kecil yang digunakan oleh warga sidoarjo untuk memasak. Semburan ini membesar manakala air laut pasang. Ini bukti betapa rentan kekuatan daya topang Pulau Jawa hingga mampu mengubah tekanan gas di dalam tanah Pulau Jawa.

Sedangkan aktivitas manusia contohnya pembangunan gedung pencakar langit, pengeboran minyak ..... (yah, balik mimpi maning .... )

Jadi kalo ada firman Tuhan yang menyatakan klo gempa juga akibat ulah manusia, bukan cuma ulah lempeng-lempeng, maka firman itu benar adanya.

14 September 2009

Nyambung mimpi gempa

[tentang gas yang merembes]
Ngomong-ngomong soal gempa di Pulau Jawa, mimpiku akan menjadi lebih rasional dibanding kesimpulan ‘ilmuwan bulan’ dalam link tersebut. Aku bermimpi Pulau Jawa adalah sebuah kapal raksasa yang topang oleh suspensi yang sangat besar. Suspensi ini yang selama ini meredam getaran lempeng Samudera Hindia yang terus menerus mendorong Pulau Jawa ke arah utara. Suspensi ini membentang dari timur Pulau Jawa hingga ke barat di dekat Gunung Krakatau.

Sama kayak suspensi mobil, suspensi Pulau Jawa juga memiliki olie. Olie-nya suspensi Pulau Jawa adalah Lumpur Lapindo. Dan yang berfungsi sebagai pegas adalah gas yang terperangkap bersama Lumpur lapindo. Ketika pengeboran lapindo menembus lapisan gas, gas yang selama ini menjadi pegas-nya Pulau Jawa mulai merembes keluar. Rembesannya gas enggak lewat lubang sumur karena lubang sumur tertutup oleh 'pelumas' pengeboran, tapi merember melalui lapisan tanah yang tidah dilapisi casing.

Akibatnya berkurang gaya elastis yang mengimbangi energi potensial lempeng Samodra Hindia sehingga muncullah gempa di Jogja. Gempa jogja membuat suspensi berkontraksi, dimulai dengan menyedot lumpur pengeboran kemudian mendorong bor alias melakukan kick. Karena Lapindo segera menutup sumur dengan lumpur berat, tekanan dari bawah menyebar dalam tanah yang tidak terlindungi casing membentuk jalur-jalur rembesan gas.

Jaringan advokasi tambang melakukan penelitian gaya infotainment menyimpukan bahwa Gempa Jogja menyebabkan keluarnya Lumpur lapindo. Tapi justru mimpiku menunjukkan bahwa pengeboranlah yang memicu Gempa Jogja. Pengeboran itu pula kini membuat system suspensi makin rapuh, hingga makin sering gempa terjadi di Pulau Jawa. Mengingat system suspensi membentang dari timur ke barat, maka tak heran jika gempa bergerak dari sebelah timur menuju ke barat. Mungkin akan sampai di Krakatau.

Nah, klo sudah sampai di krakatau, semburan Lumpur akan sangat berkurang volumenya. Tapi Pulau Jawa praktis tidak punya lagi sistem suspensi. Dorongan lempeng Samodera Hindia akan membuat Pulau Jawa makin miring ke arah selatan, akhirnya ambruk dan tenggelam. Persis kayak ramalan Joyoboyo, wong jowo kelangan jawane alias Orang Jawa kehilangan [Pulau] Jawa-nya!

Tapi itu semua hanya mimpi kali ye…….

[up date: hubungan lumpur lapindo dengan gempa di pulau jawa (sumber USGS dan BMKG)
- 29 Mei : Rekahan Lapindo meluas 1 Km ke barat pusat semburan
- 1 Sept : Semburan Lumpur Lapindo Membesar Kembali
- 2 Sept : gempa selatan Tasikmalaya
- 4 Sept : gempa selat sunda
- 8 Sept : gempa tenggara wonosari
- 9 Sept : gempa 4.1 di 135 km barat daya Tasikmalaya
- 28 Sept : gempa magnitude 4.8 di 125 Km utara Surabaya
- 28 Sept: gempa magnitude 4.8 di 115 km selatan Bandung
- 12 Okt: gempa 5.1 di 236 km barat daya Tasikmalaya
- 16 Okt: gempa selat sunda 6.5 di 187 km barat daya Jakarta
- 20 Okt: gempa 4.7 di 108 km selatan Tasikmalaya
- 24 Okt: gempa 4.7 di 50 km barat daya Sukabumi
........ kayaknya gempa udah mulai jadi angkot yg bolak balik sepanjang pulau jawa ..... ]


Jumlah Pembaca:

WEBCOPY WRITERS
WEBCOPY WRITERS

12 September 2009

Doktor versus Orang Religius dari Jawa

Pada akhir tahun 80-an, ada seorang pemuka agama yang bilang kalo aku harus belajar dari negeri China karena kelak China akan menjadi kuat di masa mendatang. Aku engga percaya dengan omongan ini, aku pun menganggap omongan ini hanyalah pepesan kosong. Lagian pemuka agama ini juga engga jelas sekolahnya.

Pada awal tahun 90-an, aku membaca ramalan tentang puncak produksi meinyak bumi di tahun 2006. Kemudian harga BBM akan terus melambung hingga dunia industri tidak lagi berputar. Aku pun percaya dengan ramalan ini karena dibuat oleh seorang Doktor yang sudah barang tentu kenyang makan bangku universitas.

Mungkin, Presiden Bush juga mempercayai ramalan Doktor sehingga ia ambil kebijakan membuang dolar dan nyawa untuk menguasai Irak. Tak heran jika ramalan minyak bumi menimbulkan pemikiran bahwa pasca tahun 2006 negara yang kuat adalah negara yang kaya sumber energi. Tapi sayang Tuhan berkehendak lain, minyak di Irak tidak membuat ekonomi Amerika menguat tapi malah terpleset ke dalam krisis, menyeret pengganti Bush, Obama, mengemis-ngemis ke China.

Tak kusangka, ramalan orang tua religius yang ku anggap remeh ternyata menjadi kenyataan. Ramalan Doktor yang kuyakini benar justru meleset dan membuat kekacauan ekonomi.

Dimana letak perbedaan ramalam Doktor dan ramalan orang religius? Sang Doktor membuat ramalan hanya menggunakan kemampuan analitis otak, sedang orang religius Jawa mengkombinasikan kemampuan analitis, spiritual dan emosional.

Jadi, klo kita mengabaikan kemampuan spiritual dan emosional, sama saja kita men-downgrade kemampuan otak kita menjadi sekelas 'otak' komputer.

Ngomong-ngomong, kita telah meninggalkan berbagai kerusakan lingkungan untuk anak cucu kita. Apakah kita juga akan mendidik anak cucu kita menjadi komputer bukannya menjadi manusia?

Jumlah Pembaca:
freelance writers
freelance writers

10 September 2009

Studi Kasus Bank Century: Sistem Bantuan yang Salah Kaprah Menuju Kehancuran Hasil Pembangunan?

 Tanpa adanya struktur perencanaan "bagaimana menyelamatkan Bank Century" maka hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pengambil kebijakan bailout tidak memahami situasi saat itu. Sayangnya, sikap pemerintah selalu merasa paling benar dan tidak pernah meminta maaf. "Mereka-mereka yang selalu mengklaim kebenaran akan dikaramkan oleh seruan Tuhan ( Whoever undertakes to set himself up as judge in the field of truth and knowledge is shipwrecked by the laughter of the Gods)" - Albert Einstein-.

Mendengar kata 'sistemik' dalam acara diskusi di televisi tentang Bank Century membuat telinga ini berdiri dan memberikan perhatian. Maklum, sebagai orang yang sedang getol belajar tentang sistem, istilah 'sistemik' benar-benar menjadi sangat seksi di dalam otak ini.

Setelah browsing sana sini, akhirnya ditemukan ada satu kesan yang dapat ditangkap, yaitu bantuan LPS kepada Bank Century didahului oleh analisis yang timpang.

Bantuan pemerintah kepada Bank Century ditujukan agar bank itu kembali sehat, karena dikhawatirkan ketidaksehatan Bank Century berdampak sistemik seperti kata Menkeu. Pemerintah dan Bank Indonesia memandang penyelamatan Bank Century harus dilakukan guna menyelamatkan perekonomian. "Melalui analisa dan fakta dan berbagai informasi dianggap bisa berdampak sistemik, konsekuensinya kita tak bisa menutup bank itu (Bank Century)," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (1/9).

Kutipan Liputan 6 SCTV masih belum layak untuk dijadikan alasan pemberian bantuan. Akan menjadi layak jika Menkeu menambahkan "Management Bank Century telah menyusun strategi untuk mengatasi permasalahannya dan membutuhkan dana sebesar sekian rupiah untuk melaksanakan startegy tersebut. Pemerintah akan membantu pelaksanaan startegy ini dengan cara begini-begitu dan begono"

Nah, klo kutipan Menkeu ditambah seperti paragraf di atas, maka maka bantuan menjadi sangat layak. Bantuan akan benar-benar digunakan untuk mengatasi masalah, bukan sekedar mengembalikan dana deposan.

Memang pada akhirnya Bank Century berhasil membukukan laba, tapi apakah laba signifikan dengan suntikan modal?

Mungkin, disinilah letak ketimpangan pembangunan di negeri kita tercinta. Analisisnya terlalu pendek. Makanya tak heran jika muncul asumsi klo kita bangsa yang bisa membangun tapi tak mampu merawat hasil pembangunan.


oooOOOOooo

Jumlah Pembaca:

06 September 2009

Penelitian Mutakhir Gempa di Pulau Jawa dan Penelitian Mutakhir Lainnya :D

Ternyata dunia penelitian dan ilmu pengetahuan tidak bisa lepas dari turbulensi budaya instant. Enggak tanggung-tanggung, institusi berkelas internasional seperti Boeing Corp. pun terjebak dalam pemikiran instant.

Di awal tahun 2000, Boeing menyelenggarakan penelitian untuk menciptakan mesin anti gravitasi. Padahal, untuk dapat melawan gravitasi, maka kita harus tahu bagaimana proses gravitasi bumi menyebabkan benda jatuh. Tapi penjelasan macam ini sama sekali belum ada. Gravitasi masih misteri, tapi Boeing berusaha melawannya. Ini sama saja Boeing ingin bikin nasi tapi dengan cara menanak jerami! Tak heran jika jutaan dolar dana riset Boeing menghasilkan angka nol besar.

Boeing bukan satu-satunya pakar instant. Para ilmuwan yang sedang meneliti hilangnya koloni lebah (Collapse Colony Disorder – CCD) juga melakukan kesalahan yang sama. Mereka langsung meneliti virus dan bakteri yang menyerang lebah. Ada ilmuwan yang mengkaitkan dengan global warming. Ada pula ilmuwan yang langsung meneliti struktur genetik (DNA) lebah. Ketika hasil penelitian mereka terbukti menyebabkan kematian lebah, mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana proses kematian merambah ke satu koloni. Sehingga para ilmuwan mulai bikin kesimpulan yang paling ilmiah yaitu hilangnya koloni lebah disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat komplek, sedemikian komplek sehingga bisa bikin pecah otak ilmuwan kalo diteliti lebih jauh, huakakakakaka……

Pada dasarnya, hilangnya koloni lebah terjadi karena lebah-lebah tidak dapat lagi menemukan sarangnya. Jadi, kenapa engga meneliti navigasi lebah dulu untuk mencari tahu bagaimana mereka bisa tersesat? Apakah faktor biologis atau faktor lingkungan? Nah klo terbukti karena faktor biologis, maka boleh dilanjutkan dgn penelitian virus ataupun DNA. Tapi klo mereka tersesat karena faktor lingkungan maka riset biologis akan sia-sia.

Penjelasan yang berakhir pada pecahnya kepala juga terjadi dalam penjelasan mengenai hubungan gravitasi bulan dengan pasang surut air laut. Anehnya, hitungan matematis jelas-jelas menunjukkan bahwa gravitasi matahari sangat jauh lebih kuat dibanding gravitasi bulan, tapi kenapa justru gravitasi bulan yang bikin pasang air laut? Bukan matahari? Penjelasan resmi menyebutkan kalau gravitasi bulan dan sifat air laut yang tidak padat membuat interaksi yang sangat komplek, alias bikin pecah kepala ilmuwan klo disuruh ngejelasin.

Satu-satunya penghubung antara gravitasi bulan dengan pasang surut air laut adalah karena bulan dan air pasang sama-sama memiliki siklus 12 jam 25 menit. Apakah hanya karena selalu muncul bareng bisa dijadikan alasan? Kayak infotainment aja ….

Klo cuman kemunculan yang bersamaan, aku juga punya penelitian mutakhir tentang gempa di Pulau Jawa. Pada bulan Mei 2006, aku menderita sakit perut dan pinggang yang engga bisa dijelasin sama dokter. Pas waktu itu ada kejadian gempa Jogja 27 Mei 2006. Saat ini, penyakit yang engga jelas juntrungnya ini kambuh bersamaan dengan munculnya gempa Tasikmalaya. Nah lo! Para 'ilmuwan bulan' bisa bikin penelitian mutakhir dan berkesimpulan klo penyakitku memiliki hubungan sangat kompleks dengan gempa di Pulau Jawa!

UPDATE: Jalan Cerita Mimpi

04 September 2009

Penyelidikan di atas Bus Trans Jogja: Focus Disorientation

Semenjak menjadi pasien terapi, aku juga menjadi pelanggan Bus Trans Jogja sebagai kendaraan yang membawa aku ke tempat praktek terapi. Berbekal pengalaman beberapa lama menjadi penumpang, aku pun hapal dengan beberapa kebiasaan pelayanan Trans Jogja.

Salah satu pelayanan yang aku hafal adalah bahwa aku tidak pernah menunggu lebih dari lima belas menit di dalam shelter. Tapi pada tanggal 4 September 2009, aku meunggu hingga 19 menit. Kelebihan 4 menit ini engga masalah bagiku, tapi cukup untuk menimbulkan rasa ingin tahu kenapa bus ini datang lebih lambat.

Delay yang cukup panjang membuat bus yang ku tumpangi selalu dijejali penumpang di setiap shelter pemberhentian. Untunglah aku berdiri di bagian depan sehingga engga perlu menggesar-geser badan untuk lalu-lalang penumpang.

Berdiri di bagian depan juga membuat aku bisa mengamati Pak Sopir. Jadwal pemberhentian shelter biasanya di ditempel di atas speedometer sehingga Pak Sopir engga perlu toleh kanan kiri buat memastikan apakah ia terlalu lambat atau terlalu cepat. Tapi, dalam bus yang kutumpangi kali ini, jadwal itu ditempel di bagian samping dekat bahu. Pantes aja bus ini telat, Pak Sopir engga bisa terus menerus memantau jadwal, bisa sakit pinggang dia!

Engga cuma itu, Pak Sopir juga mengenakan kaca mata hitam padahal cuacanya mendung! Nah lo, udah letaknya disamping, makin gelap lagi!

Setidaknya, ada satu pelajaran yang bisa dipetik, bahwa ada kalanya fasiltas tidak menjamin performa kinerja.

01 September 2009

Kegagalan Indosat Palapa D

Membaca berita yang mencoba menafikan kegagalan Satelite Palapa D adalah hal yang lumrah. Tidak ada satupun operator satelit yang bersedia menyebutkan betapa banyak kekurangan yang dihadapi dengan satelitnya. Jadilah riset tentang kegagalan satelit sulit untuk menghasilkan hasil riset yang memadai.

Jadi wajar pula kalo situs-situs berita di Indonesia tidak memberitakan bahwa Palapa D tertahan di bawah garis orbit yang ditentukan dan kemungkinan kecil dapat diatasi.[
Indonesia's Palapa D satellite was stranded in a lower-than-desired orbit after the failure of the Chang Zheng 3B launch vehicle's third stage. The satellite itself is well, but it seems unlikely it could be salvaged]

Sistem pendorong satelit menggunakan roket, jadi roket ini akan digunakan untuk memposisikan satelit ke orbit yang ditentukan. Nah, klo jarak satelit ke orbit terlalu jauh maka akan banyak bahan bakar yang dihabiskan. Makin tipis sisa bahan bakar, makin sedikit pula usia pakai satelit ini.

Aku sendiri belajar tentang satellite, tapi ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya, yaitu roket pendorong sebuah satellite umumnya diletakkan di bagian belakang. Padahal posisi seperti ini membuat satellite mudah mangalami rolling. Tapi apa hendak dikata, desain standar satellite emang udah demikian.

Mudah-mudahan ntar ada yang mau jadi sponsor buat aku meneliti sistem pendorong alternative buat satelit yang engga pake bahan bakar tapi pake tenaga listrik. Jadi cukup pake energy matahari, engga bakal ada lagi cerita satelit yg jatuh karena kehabisan bahan bakar. Cuman sayangnya, penelitian ini akan membuat 'pelajaran fisika' harus dirombak total.

Angkasa luar memang kejam, ribuan perhitungan dan keputusan dari satu satelit yang tepat dapat digagalkan oleh satu kesalahan teknis, dan satu kesalahan teknis menghasilkan bencana. Sebuah peluncuran satelite yang dikatakan sukses sesungguhnya mengandung anomaly dalam pembacaan telemetri. Jadi tak heran jika SSED (Space Systems Engineering Database) memiliki lebih dari 100.000 data kegagalan dan anomaly. Jadi diperlukan banyak ahli astrofisika, programer, dan insinyur mesin untuk mengontrol satu buah satellite.

Jumlah Pembaca:
Freelance Writers
Freelance Writers

Ada kesalahan di dalam gadget ini