10 Maret 2009

REL ASPAL: Kegagalan Sistem Transportasi Nasional

Jaman penjajahan Belanda dulu, banyak dibangun rel kereta api untuk mengangkut hasil bumi. Kini, rel kereta sudah banyak berkurang dan yang tersisa adalah iring-iringan kendaraan roda empat di jalanan aspal yang mirip dengan rangkaian kereta api. Apakah rel besi di jaman Belanda telah berubah menjadi rel aspal?

Mungkin pemerintah kolonial Belanda dulu udah memperhitungkan bahwa sistem transportasi yang efektif di Pulau Jawa adalah Kereta Api, sehingga mereka jor-joran bikin rel. Bahkan kota-kota di dataran tinggi seperti Wonosobo pun tak luput dari jaringan kereta api.

Memang, sistem transportasi kereta api akan menjadi sangat efisien manakala harus memindahkan sejumlah barang yang sangat berat. Momen kelembaman yang membuat kereta api terus bergulir akan banyak menghemat BBM.

Persis seperti mesin 4 tak. Secara teoritis mesin 4 tak tidaklah efisien karena terlalu banyak energi yang terbuang akibat gesekan dibanding mesin 2 tak. Namun kenyataannnya mesin 4 tak lebih menghemat BBM. Kelembaman flywheel pada mesin 4 tak, akan seperti kelembaman gerbong-gerbong kereta api.

Saat ini, kita sering melihat kereta api yang ada di jalan aspal. Biasanya yang bertindak sebagai ”lokomotif” adalah truck bermuatan super berat sedang ”gerbong”-nya adalah kendaraan lain yang berjalan beriringan di belakangnya. Setiap gerbong membuang energi untuk tetap berjalan beriringan. Bahkan lokomotif kereta api aspal kadang sangat boros energy sehingga gerbong-gerbong dibelakanganya secara otomatis harus menembus asap hitam alias autoblackthrough*. Sedang pada kereta api yang berjalan di atas rel besi, hanya lokomotifnya saja yang mengkonsumsi BBM.

Jangan-jangan, pemerintah kolonial Belanda dulu udah membaca fenomena pemborosan energi ini ’kali ya?

Semarang, Januari 2009

[* diedit untuk bisa memenuhi persyaratan Black Blog Competition Award ]

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini