19 Maret 2009

BERPUTUS ASA UNTUK MENDAPAT JALAN KELUAR

Adakalanya, putus asa adalah sebuah kondisi me-refresh otak untuk kita mendapatkan sudut pandang baru sehingga muncul ide-ide segar yang membawa kita keluar dari keputus-asaan.

Sewaktu pertama kali membuat website perusahaan, aku kesulitan meng-upload konten. Berkali-kali aku coba langkah-langkah upload seperti yang disampaikan oleh pengelola server via e-mail. Ada tiga atau empat email yang berisi langkah-langkah upload di folder inbox, tapi hasilnya nol besar. Dengan putus asa aku menelpon pengelola server sekedar buat misuh-misuh.

Akhirnya, kusempurnakan keputusasaanku dengan meninggalkan meja kerja, cari makan siang, trus tidur-tiduran di tempat yang sejuk, hingga aku benar-benar terlelap selama kurang lebih 15 menit.

Setelah puas menikmati keputusasaan, aku kembali ke meja kerja dan memelototi emailku. Aku pun sadar, ada satu email di folder Spam yang sejak tadi tidak kupedulikan. Email span itu ku buka dan ….. eng ing eng ……. Isinya petunjuk upload secara detil. Akhirnya proses upload berjalan lancar, meski sedikit nyesel karna udah misuh-misuh sama pengelola server.

Klo saja aku ndak menikmati putus asa, email spam itu mungkin engga pernah menarik perhatianku. Mungkin pula emang dibutuhkan manajemen putus asa untuk bisa memposisikan sifat manusiawi putus asa menjadi berkonotasi positif.

Keputusasaan diatas bukanlah keputusasaan yang pertama. Dulu sewaktu masih kuliah aku pernah putus asa mengerjakan soal ujian, trus aku pun tertidur selama beberapa menit di kursi ujian. Setelah terbangun, aku seperti teringat sesuatu yang membuat aku mampu menyelesaikan soal ujian.

Bukan Cuma aku, sodara sepupuku pernah mengalami hal yang sama, tertidur trus terbangun dengan sebuah solusi.

Pepatah cina menyatakan “Bila kamu menemui jalan buntu dalam menyelesaikan masalah, kembalilah ke titik awal permasalahan”. Jika kita kembali ke titik awal dengan cara berpikir yang engga diubah, kita akan sampai pada jalan buntu yang sama. Jadi, titik awal yang dimaksud bukan sekedar titik awal secara objektif, tapi juga titik awal subjektif dimana pemikiran terbebas dari berbagai hipotesis.

Jumlah Pembaca:
FREELANCE COPYWRITER
FREELANCE COPYWRITER

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini