20 Januari 2009

Job Description: Pedang Bermata Dua?


Bagaimana membagi Job Description untuk para staf yang jumlahnya terbatas pada sebuah perusahaan kecil?

Aku belum menemukan jawaban pertanyaan diatas ketika tadi pagi salah satu staf berlatar belakang accounting mengusulkan diadakannya rapat untuk membahas tugas masing-masing staf.

Aku teringat sewaktu menerima karyawan baru berlatar belakang ilmu komunikasi. Di dalam benakku sudah terbayang konten-konten komunikasi perusahaan yang atraktif dan menarik lebih banyak klien. Ternyata dia kurang PD untuk mengerjakan konten-konten itu, mungkin karena pengetahuan akan seluk-beluk perusahaan masih sangat terbatas. Namun dia sangat enjoy ketika melakukan instalasi hardware multimedia. Jadilah ia technical support handal dibidang multimedia.

Klo saja dulu aku kasih Job Description tegas untuk menangani masalah konten, mungkin dia akan sulit menikmati pekerjaannya, dan aku akan menemukan lebih banyak kesulitan saat mengeksekusi kontrak-kontrak hardware multimedia.

Bagaimanapun, aku berusaha untuk mengajaknya diskusi ketika aku mengerjakan konten-konten komunikasi. Itung-itung aku belajar dari orang yang bener-bener dari bangku kuliah komunikasi.

Tapi, penilaian bahwa dia enjoy di hardware multimedia adalah penilaian pribadiku belaka, belum dikonfirmasikan dengan yang bersangkutan. Jadi, ide untuk membahas tugas masing-masing staf adalah ide yang tepat untuk konfirmasi penilaian pribadiku dengan seluruh staf.

Well, klo dulu aku kasih job description tegas terhadap tugas-tugas accounting, mungkin dia engga bakal punya ide ini karena terkungkung kaku oleh cashflow.

Perusahaan kecil haruslah gesit dan fleksibel, seperti kegesitan dan fleksibilitas manuver terbang burung walet yang mampu membuat elang tergopoh-gopoh.

BTW, staf berlatar belakang accounting ini punya kekasih berkulit gelap sehingga [mungkin] dia pantas mendapatkan blackinnovationawards atas terobosan (breakthrough) yang spontan ... autoblackthrough .... ( maksa banget, yach ..... )

Jumlah Pembaca:
article writer
article writer

18 Januari 2009

Dosa-ku kepada Djarum

Habis publish artikel Djarum Black Blog Competition dan daftar ikutan kompetisi, aku jadi inget kalo aku punya dosa lain selain artikel ”Iklan Djarum Anti Sains”.

Tahun 2004, aku dapet panggilan test kerja dari PT. Djarum. Sayangnya, waktu pelaksanaan test bersamaan dengan janjiku pada salah seorang klien. Sialnya lagi, klien yang bersangkutan engga mau diubah jadwalnya, jadilah aku berkutat dengan project kecil dan melepas panggilan test kerja dari PT. Djarum.

Banyak yang bilang, klo udah menolak panggilan dari suatu perusahaan maka nama kita udah masuk dalam black-list. Mudah-mudahan PT. Djarum engga bikin black-list gituan. Tapi, yang jelas, PT. Djarum bikin Blackinnovationawards, Black-in-News, Black-Car-Community dan black-black yang laen……

...... akhirnya bisa juga bikin artikel pertama dengan keyword untuk kompetisi, tanpa pemaksaan ...... ( :proud mode: on )

Djarum Black Blog Competition


Sayang sekali, aku menemukan Djarum Black Blog Competition setelah aku publish artikel ”Iklan Djarum Anti sains”. Jadinya, agak-agak engga enak klo mo daftar ikutan kompetisi.

Mungkin aku harus mengedit artikel iklan Djarum dengan bahasa yang lebih menjilat. Tapi editing itu engga bakalan sejalan dengan tema blog ini.

Blog ini mengangkat tema Non-linearitas dan Paradok, artikel ”Iklan Djarum Anti Sains” menunjukkan paradox antara pesan yang ingin disampaikan pembuat iklan dengan makna yang diterima oleh salah seorang pemirsa iklan, yaitu aku.

Ya sudah, biarkan apa adanya terus ikut kompetisi.

Sekarang, daftarkan blog trus pasang target bikin 20 artikel sebelum 31 maret 2009. Engga ketinggalan, masukkan keyword wajib, secara dipaksakan maupun engga: blackinnovationawards, autoblackthrough .......

:D


Jumlah Pembaca:
Freelance Writing
Freelance Writing

17 Januari 2009

Titen adalah Identification


Titen adalah Bahasa Jawa yang kalo diartikan dalam Bahasa Inggris berarti “identification”. Hanya saja Orang Jawa menggunakan titen umumnya untuk mengikuti fenomena alam, sedang orang barat menggunakan identification umumnya untuk menaklukkan alam.

Titen adalah kata benda dari kata kerja ”niteni” yang berarti ”mengidentifikasi”. Identification adalah kata yang tepat untuk mengganti kata titen, sebab dalam khasanah Bahasa Jawa Titen berarti “mengenali ciri-ciri akan suatu hal yang merupakan bagian dari sebuah system”.

Salah satu hasil titen adalah dalam hal memotong pohon bambu. Titen Orang Jawa akan memotong pohon bambu hanya pada musim-musim tertentu agar bambu tidak mengandung larva bubuk yang dapat membuat bambu mudah lapuk. Sedang identification orang barat akan menghasilkan pestisida atau bahan pengawet untuk membunuh larva bubuk.

Biarpun sama-sama berasal dari kemampuan “mengenali ciri-ciri akan suatu hal yang merupakan bagian dari sebuah system”, tapi itulah yang membedakan antara budaya Barat dengan budaya Timur.

Jumlah Pembaca
Blog Poster
Blog Poster

Iklan Jarum yang anti sains?

Aku jarang nanton TV local, tapi waktu nginep di hotel kecil di Ponorogo, aku habiskan waktu buat nonton TV sembari menunggu kantuk. Eh, engga sengaja memperhatikan iklan Djarum yang main parasailing pake skateboard di pinggir pantai. Para laki-laki meluncur bersama angin, meloncat dari atas tebing dan kemudian melayang-melayang di atas laut. Fantastis!
Tapi ada satu hal yang menggelitik otakku.
Pada siang hari umumnya angin bertiup dari laut ke darat. Iklan jarum menunjukkan hal yang berlawanan, para Djarumers meluncur bersama angin dari darat ke laut di siang bolong ........
Ini fenomena Angin Darat dan Angin Laut yang tidak sejalan dengan pelajaran Bu Menik, guru SD waktu aku duduk di kelas 2. BTW, namanya juga iklan, sah-sah saja melawan hukum alam, yang jelas brand image spirit of adventure ala Djarum engga bikin aku terkesan, karna adventurer sejati memiliki kecerdasan cukup untuk ”membaca” karakter alam. Justru aku malah berpikir bahwa rokok emang bikin orang jadi bodoh, mudah dikibuli ...
Mungkin akan terlihat cerdas jika Iklan Djarum parasailing di atas dikasih prolog yang menggambarkan pemilihan tempat parasailing yang tepat. Aku pun teringat ada banyak iklan lain yang mengandung muatan sains ataupun knowledge yang cukup berguna. Aku membayangkan klo iklan-iklan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak, aku pun berandai-andai ......
Aku tak ingat kaya apa pengandaianku, yang jelas aku tersadar udah jam 5 pagi!
Jumlah Pembaca:


ARTICLE WRITERS


07 Januari 2009

Bensin Takut Miskin


Hari ini aku dua kali mengisi bensin eceran di kios pinggir jalan, yah.... hitung-hitung berbagi rejeki dengan kaum marginal. Mungkin ini adalah sisi baik dari kebijakan penurunan harga BBM yang membuat pengusaha Pom Bensin engga mau rugi dan menutup SPBU-nya sehingga memaksa kita berbagi rejeki.

Terakhir mengisi bensin di belakang UIN Sunan Kalijaga, jam 11 malem. Si penjual langsung mengeluarkan sebuah jerigen kapasitas 5 liter sebelum aku sempat menghentikan mobil di depan kiosnya.

"Lho, kok tau klo aku mo beli bensin?" tanyaku.
"Emang banyak yang beli di sini, kok Mas" jawabnya kemudian berkomentar, "Orang-orang kaya pemilik Pom Bensin takut miskin, jadi engga mau kulakan dengan harga lama."
"Lha sampeyan engga takut miskin, po?" tanyaku lagi.
"Lha wong udah miskin kok takut miskin."

Hehehe..... risktaker sejati adalah orang yang tidak punya resiko!


Jumlah Pembaca:
Webcopy Writers
Webcopy Writers

03 Januari 2009

Siapa yang Bodoh yach.......

Semalem aku pulang larut karna ada kerjaan lembur. Udah rasa capek bertubi-tubi, ditambah rasa dongkol karena banyak orang laen yang bisa menikmati libur selama setahun.

Waktu itu skitar jam sebelas malem, jalanan di kota jogja udah sepi, tapi lampu traffic light di perempatan balai kota masih aktif menyalakan lampu merah, kuning dan ijo. Aku sampai di perempatan ini pas lampu menyala merah, jadilah aku menginjak rem dan mencoba menghentikan mobil di belakang garis zebra cross.

Tiba-tiba terdengar bunyi decit sepeda motor yang juga mengerem di belakang mobilku. Mungkin si pengendara sepeda motor engga ngira klo aku bakal berhenti di lampu merah yang sepi. Sejurus kemudian motor itu mendahuluiku melewati sisi kanan menerjang lampu merah, dan pengendaranya berteriak, "Goblok!"

Waduh, udah dongkol, capek masih diteriakin 'goblok' lagi ....... nasib...... nasib.....

Tapi, teriakan itu bikin aku mikir, jangan-jangan aku ini emang goblok, udah tau engga ada kendaraan lain tapi masih mau patuh pada lampu yang engga punya otak ....

Ato pengendara motor itu meneriaki dirinya sendiri, klo dirinya bodoh engga tau aturan?
ooOOOoo

Ada kesalahan di dalam gadget ini