27 November 2009

Studi Kasus Bank Century: Misteri Dampak Sistemik

Istilah "Dampak Sistemik" yang melambung seiring dengan perkembangan kasus Bank Century bisa menjadi bumerang bagi pengambil kebijakan bailout Bank Century.

Kita tentulah paham dengan apa yang dimaksud dampak sistemik, yaitu munculnya persepsi negative yang timbul setelah Bank Century dinyatakan ditutup. Persepsi negative tersebut adalah ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dalam mengawasi kinerja perbankan, sehingga menimbulkan chaos.

Kini, dasar pengambilan keputusan itu dipertanyakan, apakah benar penutupan Bank Century berdampak chaos?

Persepsi negative bermula dari subyektivitas yang diyakini oleh sejumlah orang sebagai obyektivitas. Jika subyektivitas ini memiliki daya tular yg tinggi maka subyektivitas akan menjadi variabel penyebab chaos, meskipun hanya dibangun oleh sejumlah kecil individu namun dapat mempengaruhi sebagan besar komunitas. Dalam ilmu fisika nonlinier, karakteristik variabel ini dikenal dengan nama Lyapunov Multiplier.

Untuk menilai apakah timbulnya persepsi negative menimbulkan chaos atau tidak, digunakan matematika probabilitas dengan mempertimbangkan jumlah individu, penyebaran informasi, rasionalitas yang dihadapkan pada realita, dll. Dari informasi ini dapat diperkirakan eskalasi yang dapat terjadi (tentu saja ini kerjaan intelejen). Dan dengan probabilitaslah ilmu ekonomi memasuki ranah eksakta.

Untuk kasus Century, jika pemerintah mengumumkan "Bank Century ditutup karena pemilikinya korup" maka ada kemungkinan timbul persepsi bahwa perbankan Indonesia tidak aman. Tapi perlu dipertimbangkan bahwa persepsi masyarakat terhadap sby sangat positif pada saat itu, sehingga cenderung akan timbul persepsi "Wah pemerintahan sby cepat tanggap, engga kayak tahun 98 dimana BDNI dan Bank BHS dibiarkan menguras dana nasabahnya"

Tindakan menangkap pelaku koruptor akan diapresiasi positif dan justru isyu-isyu anti sby akan dianggap sebagai isyu yang berasal dari para koruptor.

Untuk mengukur dampak sistemik dalam kasus century, dapat dilakukan pendekatan kayak gini:
1. Berapa jumlah nasabah Century yang akan dirugikan (memiliki simpanan lebih dari 2 m) yang akan memaki pemerintah.
2. Berapa jumlah nasabah century yang akan berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyelamatkan uang mereka dari jarahan manajemen bank century (nasabah dengan simpanan kurang dari 2m).
Secara logika, nomor dua akan lebih banyak suaranya dibanding yang momor satu.

Analisis variable-variable lainnya juga menujukkan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintah masih lebih kuat dibanding ketidakpercayaan.

Namun kenyataannya, udah ngrampok dana LPS tidak semua nasabah dapat mengambil dananya kembali. Bahkan nama century pun diganti sehingga membuat 'nasabah century' menjadi nasaban tanpa bank. Lebih lanjut, justru penyelamatan Bank Century malah menimbulkan Hak Angket dan penurunan kepercayaan thd presiden berserta partainya.

Kenapa?

karena penyelamatan bank century telah menumbangkan semangat pemberantasan korupsi yang menjadi tiang utama penyangga kepercayaan publik, karena koruptor bank century ditangkap setelah dapet kucuran dana. Perahnya lagi, penangkapan itu tidak dilakukan oleh SBY ....

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini